KALIMANTAN TENGAH — Pengguna cukup membuka aplikasi Gojek, lalu memilih ikon palang medis bertuliskan GoMed. Jika tidak langsung muncul, klik tombol "Lainnya" untuk menemukan daftar layanan lengkap. Setelah masuk, pengguna akan diarahkan ke sistem yang terintegrasi langsung dengan Halodoc.
Di dalam platform, tersedia tiga kategori obat. Pertama, obat bebas bertanda lingkaran hijau yang bisa dibeli tanpa resep. Kedua, obat bebas terbatas dengan lingkaran biru yang tetap bisa dibeli tanpa resep tapi ada peringatan khusus. Ketiga, obat keras bertanda lingkaran merah yang mewajibkan unggahan foto resep dokter atau hasil konsultasi di platform tersebut.
Sistem akan mendeteksi lokasi pengguna lewat GPS dan mencarikan apotek mitra terdekat. Mitra yang tergabung antara lain Kimia Farma, Century, Guardian, hingga apotek lokal berizin. Tujuannya, ongkos kirim lebih murah dan obat sampai dalam waktu kurang dari 60 menit — rata-rata 30-45 menit untuk radius 5-10 kilometer.
Pembayaran bisa dilakukan lewat GoPay, PayLater, atau kartu kredit/debit. Setelah pembayaran terverifikasi, pesanan diteruskan ke mitra pengemudi yang akan mengambil obat di apotek tujuan.
Keaslian produk menjadi perhatian utama. Semua apotek mitra wajib memiliki Surat Izin Apotek (SIA) dan Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA). Menurut data BPOM, peredaran obat palsu di pasar digital masih menjadi ancaman serius. Dengan GoMed, rantai pasok terpantau digital karena pesanan dikirim langsung dari apotek fisik legal ke tangan konsumen tanpa perantara pihak ketiga yang tidak terverifikasi.
Kemasan obat juga disegel rapat untuk menjaga privasi kondisi medis pengguna. Selain itu, riwayat transaksi tersimpan dan bisa digunakan untuk konsultasi dokter di kemudian hari.
Kendala yang sering ditemui pengguna adalah saat membeli obat keras. Peraturan Menteri Kesehatan mewajibkan resep dokter untuk obat-obatan tertentu guna mencegah penyalahgunaan dan resistensi antibiotik. Pengguna bisa melakukan konsultasi dokter lewat Halodoc, mendapatkan resep digital, lalu langsung menebusnya melalui GoMed tanpa perlu cetak resep fisik.
Integrasi layanan logistik instan dengan platform kesehatan digital ini telah meningkatkan efisiensi distribusi obat hingga 60 persen dibanding metode konvensional di kota-kota besar. Riset menunjukkan, fenomena belanja obat daring di Indonesia melonjak signifikan pasca-pandemi yang mengubah kebiasaan konsumsi masyarakat.