Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, tengah menyiapkan pelaksanaan shalat Istisqa sebagai ikhtiar bersama memohon turunnya hujan di tengah kemarau panjang yang memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bupati Kotim Halikinnor menyebut koordinasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pengurus masjid masih berjalan untuk menentukan waktu serta lokasi pelaksanaan. Langkah ini beriringan dengan upaya pemadaman yang terus dilakukan Satgas Penanggulangan Karhutla di sejumlah titik, terutama di sekitar kawasan perkotaan.
SAMPIT — Rencana tersebut mengemuka di tengah kondisi lahan yang kering membuat api mudah muncul dan menyebar. Halikinnor mengakui, petugas bahkan bekerja sejak pagi hingga malam untuk mengendalikan api yang "muncul di mana-mana".
“Kita dari pagi, siang, sore, bahkan sampai malam kita memadamkan karena memang api di mana-mana muncul,” ungkapnya, Kamis.
MUI Kotim Terbitkan Imbauan Resmi
Langkah Pemkab Kotim ini sejalan dengan surat imbauan MUI Kotim bernomor 12/H-MUI-Kab.Kotim/VIII/2026 yang diterbitkan 17 Agustus 2026. Ketua Umum MUI Kotim Amrullah Hadi mengatakan, imbauan tersebut ditujukan kepada kaum muslimin dan muslimat untuk melaksanakan shalat Istisqa.
“Dalam menyikapi musim kemarau panjang dan adanya kebakaran lahan sehingga asap tebal menyelimuti wilayah Kotim, MUI Kotim mengimbau kepada bapak ibu kaum muslimin dan muslimat di wilayah Kotim untuk melaksanakan shalat Istisqa,” tutur Amrullah.
Dalam surat itu, MUI Kotim turut menyertakan tata cara pelaksanaan shalat Istisqa sebagai pedoman. Pelaksanaan dapat dikoordinasikan oleh organisasi kemasyarakatan, lembaga keagamaan, atau pengurus masjid di masing-masing wilayah.
Larangan Tegas Membakar Lahan
Di tengah ikhtiar meminta hujan, Halikinnor secara khusus meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan untuk membuka maupun membersihkan areal. Menurutnya, api yang semula digunakan untuk kepentingan pribadi dapat dengan cepat meluas dan menimbulkan dampak lebih besar.
“Saya minta janganlah, karena dampaknya bersihkan lahan dia, tapi akibatnya melebar ke mana-mana dan dampaknya sangat luas, kesehatan, pendidikan, ekonomi dan segala macamnya,” tegas Halikinnor.
Dia juga meminta aparat kepolisian meningkatkan patroli untuk mencegah kemungkinan pembakaran lahan secara sengaja. Pencegahan dinilai menjadi bagian penting agar upaya pemadaman yang dilakukan petugas tidak terus dihadapkan dengan munculnya titik api baru.
Doa dan Upaya Penanganan Berjalan Beriringan
Amrullah berharap shalat Istisqa menjadi bagian dari doa dan ikhtiar bersama masyarakat Kotim agar hujan segera turun, kemarau berakhir, serta kondisi karhutla dan kabut asap dapat segera teratasi.
“Ikhtiar menghadapi kemarau tidak hanya dilakukan melalui penanganan kebakaran di lapangan, tetapi juga melalui pencegahan, keterlibatan masyarakat dan doa bersama agar kondisi cuaca segera berubah dan ancaman karhutla dapat ditekan,” demikian Amrullah.
Hingga saat ini, Pemkab Kotim masih berkoordinasi dengan MUI, pengurus masjid, dan para ulama agar pelaksanaan shalat Istisqa dapat dipersiapkan dengan baik. “Nanti kita koordinasikan dulu dengan para pengurus. Karena itu kan kita harus koordinasi dengan Majelis Ulama Indonesia,” ujar Halikinnor.