PANGKALAN BUN — Bupati Kotawaringin Barat Nurhidayah meminta jajaran Satgas Karhutla memperketat pengawasan di Kecamatan Arut Selatan (Arsel) dan Kumai. Dua wilayah ini dinilai paling kritis dalam musibah kebakaran hutan dan lahan yang melanda kabupaten tersebut sepanjang Agustus 2026.
"Dari sebaran wilayah, Kecamatan Arut Selatan dan Kumai menjadi wilayah yang perlu mendapatkan perhatian khusus, baik dari jumlah hotspot, kejadian dan luasan kebakaran," kata Nurhidayah di Pangkalan Bun, Selasa (18/8/2026).
Luasan Kebakaran di Kumai Capai 564 Hektare
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kobar, Kecamatan Kumai menjadi wilayah dengan dampak terluas. Sedikitnya 564,91 hektare lahan hangus terbakar, tersebar dalam 62 kejadian dan 100 titik panas yang terpantau satelit.
Sementara itu, Kecamatan Arut Selatan mencatatkan frekuensi kejadian tertinggi. Wilayah ini mengalami 88 kali kebakaran dengan 215 titik panas, melahap area seluas 145,675 hektare.
Total Kerusakan Capai 792 Hektare di Enam Kecamatan
Jika diakumulasikan, total lahan terbakar di Kabupaten Kotawaringin Barat mencapai 792,44 hektare dari 173 kejadian dan 417 titik panas. Angka ini tersebar di enam kecamatan, termasuk Arut Utara yang mencatat 63 titik panas dengan luasan 30,5 hektare.
Kecamatan Kotawaringin Lama mencatat 32,1 hektare lahan terbakar dari 8 kejadian. Adapun Pangkalan Banteng kehilangan area seluas 11,75 hektare, dan Pangkalan Lada menjadi wilayah dengan dampak terkecil yakni 7,50 hektare meski tercatat lima kejadian tanpa titik panas.
Status Tanggap Darurat dan Instruksi Respons Cepat
Nurhidayah mengingatkan, Kobar saat ini telah berstatus tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan. Ia menegaskan penanganan harus berjalan lebih cepat, terkoordinasi, dan terukur dibanding hari-hari biasa.
"Kita harus bergerak secara terpadu jangan sampai ada ego sektoral, karena karhutla adalah tanggung jawab kita bersama," tegasnya.
Ia meminta petugas aktif memantau wilayah rawan dan memastikan laporan warga segera diteruskan ke pusat kendali. "Kecepatan laporan dan respons awal di tingkat wilayah, sangat menentukan keberhasilan mengendalikan api," ujarnya.
Menurut Nurhidayah, pencegahan sejak dini jauh lebih efektif dibanding memadamkan api yang telah membesar. "Lebih baik kita memadamkan api ketika masih kecil, dari pada menghadapi kebakaran yang sudah meluas dan sulit dikendalikan," ungkapnya.