Gigi Anak Berlubang karena Keturunan? Ini Fakta dan Cara Mencegahnya

Penulis: Joko Purnomo  •  Sabtu, 05 September 2026 | 13:08:31 WIB
Dokter spesialis gigi menjelaskan bahwa gigi berlubang pada anak lebih dipengaruhi oleh faktor bakteri, pola makan, dan kebiasaan menyikat gigi dibandingkan faktor keturunan.

KALIMANTAN TENGAH — Kekhawatiran seorang ibu saat melihat bintik putih atau lubang kecil di gigi anak memang wajar. Apalagi jika Anda sendiri sering mengalami masalah gigi berlubang, pikiran bahwa kondisi ini adalah warisan turun-temurun bisa langsung muncul.

Namun, Dokter Spesialis Gigi dan Mulut Mayapada Hospital, Kurnia Dwi Wulan, menegaskan bahwa karies bukanlah kondisi yang murni disebabkan oleh genetika. Ada tiga faktor utama yang jauh lebih berpengaruh, dan kabar baiknya, semuanya bisa dikendalikan oleh orang tua.

Bakteri Bisa "Pindah" dari Orang Tua ke Anak

Lalu, mengapa karies sering terlihat seperti menurun dalam keluarga? Jawabannya bukan terletak pada DNA, melainkan pada perpindahan bakteri dari mulut orang tua ke mulut anak.

"Biasanya ibu-ibu suka mencicipkan (atau meniup) makanannya. Itu secara tidak langsung, karena takut kepanasan, sudah ada transfer bakteri," jelas Kurnia di Jakarta, Jumat (4/9).

Kebiasaan kecil yang tampak sepele ini membuat pola bakteri di rongga mulut anak menjadi mirip dengan orang tuanya. Kemiripan inilah yang kemudian membuat karies terlihat seperti faktor keturunan, padahal sebenarnya itu adalah proses penularan bakteri.

Peran Makanan Manis dan Kebiasaan Menyikat Gigi

Bakteri di mulut tidak akan berkembang biak tanpa "bahan bakar". Makanan manis dan mengandung karbohidrat, seperti kue, cokelat, atau nasi, adalah sumber makanan utama bagi bakteri penyebab asam.

"Biasanya makanannya jenisnya apa, manis-manis, karbohidrat itu sudah termasuk makanan bakteri," kata Kurnia. Semakin sering anak mengonsumsi makanan atau minuman manis, semakin besar pula risiko asam merusak enamel gigi.

Selain pola makan, teknik menyikat gigi yang kurang bersih juga menjadi penyumbang besar. Sisa makanan yang tertinggal, terutama di bagian lekukan gigi geraham belakang, akan dengan cepat memicu terbentuknya plak dan lubang.

"Lekukan-lekukan ini suka terlewat kalau lagi sikat gigi. Itu juga salah satu faktor yang menyebabkan gigi karies karena makanan sering nyelip di sana," tambahnya.

Perkuat Enamel Gigi dengan Perawatan Fluoride

Untuk memberikan perlindungan ekstra, ada satu perawatan yang efektif mencegah karies sejak dini: topical fluoride. Perawatan ini dilakukan dengan mengoleskan zat fluoride langsung ke permukaan gigi anak di klinik dokter gigi.

"Topical fluoride itu dengan harapan gigi anak itu makin kuat," ujar Kurnia. Perawatan ini membantu memperkuat lapisan enamel sehingga gigi lebih tahan terhadap serangan asam dari bakteri.

Perawatan fluoride tidak hanya terbatas untuk anak-anak. Orang dewasa juga bisa mendapatkannya untuk memperkuat lapisan gigi, tentunya disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Kapan Sebaiknya Anak Mulai ke Dokter Gigi?

Jangan menunggu sampai gigi anak terasa sakit atau berlubang besar. Idealnya, pemeriksaan gigi pertama kali dilakukan saat gigi susu pertama muncul atau paling lambat di usia satu tahun. Dengan pemeriksaan rutin setiap enam bulan sekali, kondisi gigi anak bisa terpantau sejak dini.

Jika sudah terlanjur berlubang, segera konsultasikan dengan dokter gigi anak. Penanganan dini akan mencegah kerusakan yang lebih parah dan membuat pengalaman ke dokter gigi menjadi lebih nyaman bagi si kecil.

Jadi, ketika melihat gigi anak berlubang, jangan langsung menyalahkan faktor keturunan. Perhatikan kembali kebiasaan menyikat gigi, frekuensi konsumsi makanan manis, dan jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter gigi untuk perlindungan terbaik bagi senyum si kecil.

Reporter: Joko Purnomo
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top