BPBD Kotim Kerahkan Pompa Besar di Sungai Mentaya Antisipasi Embung Kering Saat Karhutla 2026

Penulis: Irfan Hakim  •  Rabu, 19 Agustus 2026 | 20:46:02 WIB
Petugas BPBD Kotim memindahkan satu unit pompa air besar ke tepi Sungai Mentaya sebagai sumber air cadangan untuk penanganan karhutla 2026.

SAMPITBPBD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai memindahkan satu unit pompa air besar ke kawasan Sungai Mentaya, tepatnya di sekitar Polsek Kawasan Pelabuhan Mentaya (KPM). Pompa ini disiapkan sebagai rencana cadangan ketika sumber air di dalam kota habis akibat kemarau panjang.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan pemindahan pompa sebenarnya sudah dijadwalkan dua hari sebelumnya. Namun, realisasinya tertunda karena tingginya kejadian karhutla pada 17 dan 18 Agustus 2026 yang memaksa seluruh personel fokus memadamkan api di sejumlah titik.

Kualitas Air Embung Menurun Drastis

Keputusan menggunakan sungai sebagai sumber air cadangan bukan tanpa alasan. Multazam menyebut sejumlah embung yang digali Dinas PU mulai menunjukkan kondisi kritis. Airnya tidak lagi jernih, melainkan pekat bercampur lumpur dan serasah daun.

“Sumber air ini terakhir di embung-embung yang sudah digali oleh teman-teman PU sudah mulai mengering. Dan kualitas air itu sudah pekat, pekat dalam arti sudah bercampur dengan lumpur, bercampur dengan serasah,” ujarnya, Selasa (19/8/2026).

Kondisi air seperti itu dinilai berisiko tinggi merusak mesin pompa yang digunakan petugas di lapangan. Karena itu, BPBD berkoordinasi dengan Polsek KPM untuk menyiapkan lokasi pemasangan pompa alternatif di tepi Sungai Mentaya.

Armada OPD Efektif, Namun Perlu Sistem Shift

Di sisi lain, pengerahan armada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang membawa tangki air dinilai cukup efektif membantu suplai air ke lokasi kebakaran. Pola ini pernah diterapkan saat penanganan karhutla 2019 dan hasilnya memuaskan.

Multazam menegaskan jumlah armada yang dikerahkan nantinya akan disesuaikan dengan kebutuhan aktual di lapangan agar tidak terjadi pemborosan bahan bakar dan tenaga. Pihaknya tengah menghitung skema penjadwalan yang paling efisien.

“Sebenarnya efektif. Cuman tentunya nanti kita akan berhitung berapa kebutuhan yang kita perlukan agar tidak mubazir. Jadi mungkin akan kita lakukan shift nanti, apakah shift harian atau shift jam nanti,” kata Multazam.

Karhutla 2026 Lebih Parah dari 2023

Multazam mengakui kondisi karhutla tahun ini jauh lebih berat dibandingkan kemarau 2023. Titik api kini banyak ditemukan di lokasi terpencil yang sulit dijangkau kendaraan roda empat, memaksa petugas berjalan kaki atau menggunakan roda tiga untuk mencapai lokasi.

“Memang pada kemarau tahun 2023 kondisinya kami tidak sampai begini. Tapi di 2026 ini memang sangat luar biasa kejadiannya,” tegasnya.

Persoalan makin rumit karena tidak semua lokasi kebakaran dekat dengan sumber air. Petugas kerap tiba di titik api dengan kondisi stok air terbatas, sementara jarak ke sungai atau embung cukup jauh untuk ditempuh berulang kali.

“Ya tentunya banyak obstacle atau kendala-kendala lapangan. Karena kebakaran ini tidak lagi terjadi di dekat-dekat kota, tetapi titik api harus ditempuh kadang-kadang menggunakan roda tiga, berjalan kaki, kemudian belum tentu air di lokasi kebakaran itu ada,” ungkapnya.

BPBD memperkirakan ketergantungan pada Sungai Mentaya akan semakin besar apabila kemarau terus berlanjut dan persediaan air di lokasi dalam kota habis. “Apabila di daerah lokasi-lokasi yang di dalam kota sudah habis, dan itu kita prediksi akan terjadi,” pungkas Multazam.

Reporter: Irfan Hakim
Sumber: tintaborneo.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top