SAMPIT — Gelombang keluhan tentang omzet yang menurun dan transaksi yang melambat belakangan ini banyak terdengar dari kalangan pengusaha dan pelaku UMKM di berbagai sektor. Mulai dari perdagangan, jasa, properti, hingga kuliner dan kontraktor, semuanya merasakan tekanan yang hampir serupa.
Namun, Direktur Politeknik Bisnis LPP Quantum, Eddy Sabarudin, M.Si, mengingatkan agar kondisi ini tidak serta-merta disimpulkan sebagai sekadar siklus ekonomi biasa. Ia menilai ada persoalan yang lebih dalam, yaitu pergeseran struktur ekonomi yang dipicu oleh kemajuan teknologi.
Eddy menjelaskan, ketika sebuah bisnis mulai sepi, dugaan pertama yang muncul biasanya adalah masyarakat tidak memiliki uang. Padahal, bisa jadi uang tersebut tetap ada, hanya berpindah ke kanal lain.
"Toko konvensional kehilangan sebagian pembeli karena marketplace dan social commerce. Berbagai pekerjaan administrasi mulai dapat dilakukan lebih cepat melalui otomatisasi dan kecerdasan buatan," ujarnya.
Ia mencontohkan, konsumen di daerah kini dapat membeli barang dari kota besar bahkan luar negeri hanya melalui telepon genggam. Perbandingan harga dan reputasi usaha pun bisa dilakukan dalam hitungan detik, membuat margin keuntungan semakin tipis.
Dalam struktur ekonomi yang baru ini, menurut Eddy, bisnis kelas menengah justru berada di posisi paling berisiko. Perusahaan besar memiliki modal dan skala ekonomi, sementara usaha mikro unggul dalam fleksibilitas dan biaya rendah.
"Bisnis menengah sering kali menanggung biaya tetap cukup besar, tetapi belum memiliki kekuatan skala seperti perusahaan besar," jelas Eddy.
Kondisi ini terlihat pada perdagangan konvensional, distributor, hotel, restoran, hingga lembaga pendidikan. Di daerah seperti Sampit, tantangan itu makin terasa karena perputaran ekonomi sangat bergantung pada sektor perkebunan kelapa sawit, aktivitas perusahaan, konstruksi, dan belanja pemerintah.
Eddy menekankan, tidak semua persoalan bisnis saat ini bersifat sementara. Sebagian memang akan membaik ketika daya beli pulih, tetapi sebagian lainnya merupakan perubahan permanen yang tidak akan kembali ke pola lama.
"Konsumen yang sudah terbiasa berbelanja secara digital belum tentu kembali sepenuhnya ke pola lama. Perusahaan yang sudah menggunakan otomatisasi tidak akan mudah kembali ke cara kerja sebelumnya," katanya.
Oleh karena itu, ia mendorong dunia usaha untuk mengubah cara pandang. Pertanyaan penting yang harus dijawab bukan hanya kapan ekonomi membaik, tetapi apakah model bisnis yang dijalankan masih relevan dengan ekonomi yang sedang terbentuk. Mereka yang mampu membaca perubahan dan beradaptasi lebih cepat akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan tumbuh.