SAMPIT — Tiga unit alat pemadam kebakaran sederhana kini menjadi senjata utama warga Perumahan Graha Pramuka dalam menghadapi ancaman karhutla yang hampir setiap tahun menghampiri kawasan mereka. Peralatan yang dirakit secara swadaya ini bukan sekadar pajangan, melainkan sudah teruji memadamkan titik api sebelum sempat meluas.
Inisiatif ini berangkat dari pengalaman pahit warga yang permukimannya berbatasan langsung dengan lahan kosong dan semak belukar. Saat musim kemarau tiba, area tersebut berubah menjadi ladang api yang siap menjalar ke rumah-rumah warga kapan saja.
Anwar, salah seorang warga Graha Pramuka, mengungkapkan bahwa biaya untuk merakit satu unit alat pemadam sederhana ini mencapai sekitar Rp 5 juta. Seluruh dana tersebut berasal dari kantong pribadi sebagai wujud kepedulian terhadap keselamatan lingkungan tempat tinggal mereka.
"Kalau dihitung-hitung modalnya kurang lebih Rp 5 jutaan. Itu secara pribadi dan mandiri," bebernya saat ditemui di Sampit, Kamis.
Komponen yang digunakan terbilang sederhana dan mudah didapatkan. Warga memanfaatkan mesin pompa air atau alkon sebagai penyedot air, drum sebagai penampung, serta selang bertekanan untuk menyemprotkan air ke titik api.
Keberadaan alat sederhana tersebut bukan tanpa bukti. Anwar menceritakan, peralatan rakitan ini sudah beberapa kali digunakan saat muncul titik api di sekitar permukiman. Dengan peralatan itu, warga mampu melakukan pemadaman awal sehingga kobaran api tidak sempat membesar sebelum petugas satuan tugas (satgas) penanggulangan karhutla tiba di lokasi.
"Alat ini kami siapkan sebagai cadangan untuk pemadaman kebakaran kalau petugas Damkar belum sampai ke lokasi," kata Anwar.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat dalam penanganan awal menjadi faktor kunci untuk mempercepat respons kebakaran. Semakin cepat api ditangani, semakin kecil peluang kobaran meluas ke kawasan permukiman maupun lahan di sekitarnya.
Selain menyiapkan perlengkapan pemadam, warga juga meningkatkan kewaspadaan dengan rutin memantau kondisi lahan di sekitar permukiman. Langkah ini dilakukan agar setiap kemunculan titik api bisa segera ditangani tanpa menunggu laporan resmi.
Upaya swadaya ini diharapkan dapat menginspirasi lingkungan lain, khususnya kawasan yang berada di sekitar lahan kosong, semak belukar, maupun wilayah rawan karhutla di Kabupaten Kotawaringin Timur. Dengan meningkatnya kesiapsiagaan masyarakat, potensi meluasnya kebakaran diharapkan dapat ditekan sekaligus mendukung upaya pemerintah dan tim satgas dalam pengendalian karhutla.
"Harapannya untuk membantu pemadaman sambil menunggu petugas datang, karena semakin cepat api ditangani maka kemungkinan api membesar juga bisa dicegah," demikian Anwar.