DENZA Z: Supercar Listrik 1.604 PS dengan FLASH Charging 5 Menit—Antara Terobosan dan Infrastruktur Indonesia

Penulis: Gunawan Susilo  •  Kamis, 30 Juli 2026 | 09:00:01 WIB
DENZA Z, supercar listrik dengan tenaga 1.604 PS, dipamerkan di Goodwood Festival of Speed 2026 dalam tiga varian, yaitu Coupe, Racing, dan Spider.

KALIMANTAN TENGAH — DENZA Z bukan supercar listrik biasa. Di ajang Goodwood Festival of Speed 2026, pabrikan hasil kolaborasi BYD dan Mercedes-Benz ini memamerkan tiga varian sekaligus—Coupe, Racing, dan Spider. Satu pesan utama: mengubah cara kita memandang waktu pengisian daya mobil listrik. Sebagai reviewer yang terbiasa dengan realitas jalanan Indonesia, kami langsung menyoroti satu hal: klaim pengisian daya ini baru masuk akal kalau stasiun pengisiannya benar-benar ada.

e3 Platform dan Blade Battery Generasi Kedua: Integrasi Bodi yang Lebih Kaku

Jantung DENZA Z adalah e3 Sports Car Platform, arsitektur khusus yang mengintegrasikan Blade Battery Generasi Kedua langsung ke bodi melalui teknologi Cell-to-Body (CTB). Hasilnya? Kekakuan struktur meningkat drastis karena baterai menjadi bagian dari rangka, bukan sekadar komponen terpisah di bawah lantai. BYD mengklaim pendekatan ini mempertahankan standar keselamatan tertinggi—catatan penting mengingat Blade Battery dikenal tahan terhadap tusukan dan overheat.

Tapi perlu dicatat: integrasi CTB punya konsekuensi. Jika baterai rusak, biaya perbaikan bisa jauh lebih mahal karena strukturnya menyatu dengan bodi. Ini bukan masalah eksklusif DENZA Z—hampir semua mobil dengan CTB seperti Tesla Model Y atau BYD Seal juga memiliki risiko serupa.

FLASH Charging 1.500 kW: Cepat, Tapi Infrastruktur Belum Siap

Klaim paling mencolok dari DENZA Z ada pada sistem FLASH Charging. Dengan daya hingga 1.500 kW melalui satu konektor, pabrikan menyebut tiga skenario pengisian:

  • Ready in 5: 10% ke 70% dalam 5 menit
  • Full in 9: 10% ke 97% dalam 9 menit
  • Cold Add 3: 20% ke 97% dalam 12 menit pada suhu -30°C

Angka-angka ini impresif. Tapi mari realistis: stasiun FLASH Charging mandiri yang dikembangkan BYD selama enam tahun itu belum tersedia di Indonesia. Saat ini, SPKLU tercepat di dalam negeri hanya mampu mengisi daya 150-350 kW. Artinya, DENZA Z yang masuk ke Indonesia kemungkinan besar hanya bisa diisi dengan kecepatan standar—jauh dari klaim 5 menit. Jika Anda membeli mobil ini dengan ekspektasi isi daya secepat isi bensin, Anda akan kecewa.

Tiga Motor Listrik 1.604 PS: Tenaga Brutal dengan Suspensi Magnetorheological

DENZA Z menggunakan sistem penggerak tiga motor listrik yang menghasilkan 1.604 PS dan torsi 1.240 Nm. Angka ini menempatkannya di level hypercar seperti Rimac Nevera atau Lotus Evija. Untuk mengendalikan tenaga sebesar itu, DENZA membekali Z dengan suspensi magnetorheological DiSus-M—teknologi yang mengubah kekentalan cairan peredam secara real-time dalam hitungan milidetik.

Dari pengalaman kami menguji mobil dengan suspensi serupa (seperti Ferrari SF90 Stradale), teknologi ini bekerja sangat baik di jalan mulus—menyerap getaran halus tanpa mengorbankan handling. Tapi di jalan Indonesia yang penuh lubang dan bergelombang, performanya masih perlu diuji lebih lanjut. Suspensi magnetorheological cenderung kaku pada kecepatan rendah, jadi kenyamanan harian di perkotaan perlu diwaspadai.

Interior: Audio Devialet dan Layar Google, Tapi Navigasi Lokal Belum Pasti

Di dalam kabin, DENZA Z menyuguhkan panel instrumen digital 8,88 inci, layar infotainment 12,8 inci yang terintegrasi dengan ekosistem Google, serta sistem audio Devialet—10 speaker untuk Spider, 12 speaker untuk Coupe dan Racing. Ada juga spherical central speaker unik di tengah dasbor yang menjadi ciri khas.

Yang menarik: DENZA menyebut konektivitas jarak jauh via aplikasi DENZA. Tapi pertanyaan besarnya—apakah aplikasi ini sudah mendukung kondisi Indonesia? Banyak mobil China yang masuk ke sini dengan aplikasi belum fully localized, seperti navigasi tidak akurat atau server lambat. Ini perlu dikonfirmasi saat unit resmi masuk.

Kelebihan dan Kekurangan DENZA Z

Kelebihan:

  • Tenaga 1.604 PS dan torsi 1.240 Nm—level hypercar sejati
  • Sistem pengisian FLASH Charging 1.500 kW (kalau infrastrukturnya ada)
  • Blade Battery Generasi Kedua dengan CTB untuk keamanan dan kekakuan tinggi
  • Suspensi DiSus-M untuk handling presisi
  • Interior premium dengan audio Devialet

Kekurangan:

  • Infrastruktur FLASH Charging belum ada di Indonesia—pengisian daya terbatas kecepatan standar
  • Biaya perbaikan baterai CTB berpotensi mahal jika terjadi kerusakan
  • Kenyamanan suspensi di jalan rusak masih perlu diuji
  • Ekosistem aplikasi dan navigasi lokal belum terjamin
  • Harga pasti sangat premium—belum diumumkan, diperkirakan di atas Rp 5 miliar

Verdict: Supercar Teknologi Tinggi, Tapi Realistis untuk Siapa?

DENZA Z adalah bukti bahwa BYD dan Mercedes-Benz serius mendorong batas teknologi EV. Sistem pengisian 1.500 kW, tenaga 1.604 PS, dan integrasi baterai ke bodi adalah terobosan nyata. Tapi untuk pembaca kami di Indonesia, pertanyaan utamanya tetap: kapan infrastruktur pendukungnya siap?

Mobil ini jelas bukan untuk semua orang. Dengan harga yang hampir pasti di atas Rp 5 miliar dan kebutuhan charger khusus, DENZA Z lebih cocok untuk kolektor atau penggemar teknologi yang punya akses ke fasilitas pengisian pribadi berdaya tinggi. Untuk penggunaan harian di jalanan Indonesia, masih banyak supercar listrik lain yang lebih realistis—seperti Porsche Taycan atau bahkan BYD Seal yang jauh lebih terjangkau.

Reporter: Gunawan Susilo
Sumber: otomotif.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top