KALIMANTAN TENGAH — Pertandingan di Stadion Dallas, Texas, berlangsung dalam suhu panas yang mencekik. Belanda lebih dominan sejak awal, menguasai 67 persen penguasaan bola pada babak pertama. Namun Jepang yang bermain dengan formasi tiga bek dan gelandang serang di posisi wing-back mampu bertahan disiplin.
Belanda unggul lebih dulu pada menit ke-50 lewat sundulan Virgil van Dijk yang masuk setelah mengenai tiang jauh. Tsuyoshi Watanabe protes karena merasa didorong, tapi wasit menganggapnya tak cukup keras untuk pelanggaran.
Jepang menyamakan kedudukan tujuh menit berselang. Kombinasi umpan pendek di sisi kiri berujung tembakan kaki kanan Keito Nakamura yang membelok dari kaki Jan Paul van Hecke dan masuk ke sudut gawang.
Belanda kembali memimpin pada menit ke-64. Crysencio Summerville menerima bola dari Ryan Gravenberch, menusuk ke dalam, dan melepaskan tembakan kaki kiri melengkung ke tiang jauh.
Alih-alih menyerah, Jepang justru meningkatkan intensitas serangan. Formasi lingkaran diskusi di tengah lapangan langsung dilakukan para pemain Jepang begitu Belanda selesai merayakan gol kedua mereka. Pendekatan mental ini membuahkan hasil di menit-menit akhir.
Dari situasi sepak pojok, bola jatuh ke kaki Daichi Kamada yang melepaskan tembakan. Bola membelok dan mengecoh kiper Belanda, membuat bangku cadangan Jepang langsung kosong berlari ke lapangan merayakan gol penyeimbang.
Pelatih Jepang Hajime Moriyasu sejak awal sudah menegaskan target timnya di turnamen ini bukan sekadar lolos grup. "Kami datang untuk memenangkan semuanya," ujarnya dalam konferensi pers sebelum pertandingan. Formasi dan keberanian mengambil risiko di laga pembuka menunjukkan keseriusan pernyataan tersebut.
Hasil imbang ini membuat Grup F belum menunjukkan siapa yang diunggulkan. Swedia dan Tunisia akan saling berhadapan di pertandingan berikutnya. Jepang mendapat satu poin berharga yang bisa menjadi modal krusial untuk melaju ke babak 16 besar.
Pertandingan ini juga menjadi bukti bahwa Piala Dunia edisi kali ini tetap menyajikan kejutan. Stadion Dallas yang penuh sesak—mengingatkan pada rumah kaca raksasa dengan atap kaca panel—menyaksikan salah satu laga pembuka paling dramatis di turnamen ini.