PALANGKA RAYA — Inflasi tahunan Kalimantan Tengah yang mencapai 4,56 persen pada Mei 2026 mulai mengubah pola belanja warga di pasar tradisional. Pedagang cabai di Pasar Besar Palangka Raya, Mufidah (35), mengatakan pelanggan masih berdatangan, tapi permintaan terhadap barang dagangannya menurun.
“Ada dampaknya. Orang berkurang belinya. Pelanggan tetap ada, tapi permintaan berkurang,” katanya saat ditemui di lapaknya, Selasa (9/6/2026).
Menurut Mufidah, penurunan daya beli terlihat jelas dari berkurangnya volume pembelian. Pelanggan yang biasanya membeli satu kilogram cabai kini hanya meminta setengah kilogram.
“Misalnya beli satu kilogram jadi setengah kilogram saja. Terdampak juga karena inflasi,” ujarnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng mencatat inflasi bulanan (month-to-month) pada Mei 2026 sebesar 0,34 persen. Secara tahunan, inflasi mencapai 4,56 persen, menjadikan provinsi ini salah satu yang tertinggi di Indonesia.
Di sisi lain, harga cabai rawit di Pasar Besar Palangka Raya mulai menunjukkan penurunan setelah sempat melonjak pasca-Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Saat ini, harga berada di kisaran Rp85 ribu per kilogram, turun dari puncaknya yang mencapai Rp120 ribu per kilogram.
“Lombok turun sudah, Rp85 ribu per kilogram. Habis Hari Raya kemarin harga ada yang Rp100 ribu, Rp110 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram,” kata Mufidah.
Pedagang lainnya, Sukarti (52), mengatakan penurunan harga baru terjadi pada Selasa (9/6/2026) setelah beberapa hari bertahan di level tinggi. Menurutnya, fluktuasi harga cabai sangat dipengaruhi pasokan sehingga sulit diprediksi.
“Turun jadi Rp85 ribu, kemarin naiknya sampai Rp110 ribu. Naik turun harga cabai tidak menentu, sekarang turun lagi,” ujarnya.
Penurunan harga cabai rawit mulai berdampak positif terhadap aktivitas perdagangan. Jumlah pembeli meningkat dibandingkan saat harga masih di atas Rp100 ribu per kilogram.
“Kalau harga turun banyak pembeli, kalau naik orang lari. Alhamdulillah karena turun ini ramai orang beli cabai,” pungkas Sukarti.
Kondisi ini menjadi gambaran nyata bagaimana inflasi tinggi menggerus daya beli masyarakat Kalteng. Meski harga beberapa komoditas mulai turun, tekanan harga secara umum masih menjadi tantangan bagi perekonomian rumah tangga di provinsi tersebut.