Lomba Bahasa Dayak Sampit untuk Pelajar Didorong agar Generasi Muda Tak Asing dengan Budaya Sendiri

Penulis: Hendra Wijaya  •  Selasa, 02 Juni 2026 | 14:58:01 WIB
Pelajar Kotawaringin Timur mengikuti lomba bahasa Dayak Sampit untuk melestarikan budaya lokal.

SAMPIT — Bahasa Dayak Sampit, identitas budaya yang diwariskan turun-temurun, kini menghadapi tantangan besar: generasi mudanya mulai asing dengan bahasa sendiri. Untuk menjawab persoalan itu, muncul dorongan agar lomba dan kegiatan berbahasa Dayak Sampit digelar secara merata bagi para pelajar di Kotawaringin Timur.

Langkah ini bukan sekadar seremonial. Tujuannya konkret: membiasakan telinga dan lidah anak muda dengan kosakata serta struktur bahasa daerah mereka sendiri. Dengan partisipasi yang luas, potensi generasi muda di bidang kebahasaan dan kesenian diharapkan bisa berkembang lebih optimal.

Mengapa Bahasa Dayak Sampit Perlu Dihidupkan Kembali di Sekolah?

Fenomena generasi muda yang lebih fasih berbahasa Indonesia atau bahkan bahasa asing dibanding bahasa daerahnya sendiri bukan hal baru di Kalimantan Tengah. Di Sampit, kekhawatiran itu memicu gagasan untuk memasukkan bahasa Dayak Sampit ke dalam kegiatan ekstrakurikuler dan perlombaan antar-pelajar.

“Perlu diadakan lomba-lomba dan kegiatan berbahasa Dayak Sampit untuk pelajar, yang sifatnya merata. Sehingga berkembang potensi anak muda,” demikian pernyataan yang mendasari usulan ini. Intinya, regenerasi penutur bahasa daerah harus dimulai dari bangku sekolah.

Apa Saja Bentuk Kegiatan yang Bisa Digelar?

Meski belum dirinci secara teknis, lomba berbahasa Dayak Sampit bisa mencakup berbagai format. Mulai dari pidato, bercerita (ba cerita), puisi, hingga lawakan atau drama pendek yang menggunakan bahasa Dayak Sampit sebagai bahasa pengantar. Kegiatan ini tidak hanya mengetes kemampuan verbal, tapi juga membangun rasa bangga terhadap identitas lokal.

Pemerataan akses menjadi kata kunci. Artinya, tidak hanya sekolah di perkotaan yang mendapat kesempatan, tetapi juga sekolah-sekolah di pedalaman atau kampung-kampung yang masih kental dengan tradisi Dayak.

Siapa yang Paling Terdampak Jika Bahasa Ini Punah?

Dampak kepunahan sebuah bahasa bukan hanya soal hilangnya alat komunikasi. Lebih dari itu, nilai-nilai kearifan lokal, petuah leluhur, dan sastra lisan yang terkandung di dalamnya ikut lenyap. Generasi muda yang tidak lagi menguasai bahasa Dayak Sampit akan kehilangan jembatan untuk memahami sejarah dan filosofi budayanya sendiri.

Oleh karena itu, inisiatif ini menyasar langsung kelompok usia pelajar. Mereka adalah penentu apakah bahasa Dayak Sampit akan terus hidup atau hanya menjadi catatan di museum.

Apakah Ada Dukungan dari Pemerintah Daerah?

Dorongan untuk menggelar lomba ini sejalan dengan upaya pelestarian budaya yang kerap digaungkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat. Dukungan anggaran dan fasilitas dari Pemkab Kotawaringin Timur menjadi faktor penentu agar kegiatan ini tidak berhenti sebagai wacana.

Jika terealisasi, lomba bahasa Dayak Sampit bisa menjadi agenda tahunan yang dinanti. Bukan hanya oleh para pelajar, tetapi juga oleh para tetua adat yang selama ini cemas melihat bahasa mereka perlahan ditinggalkan.

Reporter: Hendra Wijaya
Sumber: radarsampit.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top