SAMPIT — Rumah yang semula menjadi tempat berlindung dari guyuran hujan, kini berubah menjadi lokasi persembunyian ular. Kepala Bidang Pencegahan Disdamkarmat Kotim, Hery Wahyudi, mengungkapkan bahwa sejak Februari 2026, intensitas laporan evakuasi hewan melonjak signifikan. Jika kondisi normal hanya tiga laporan per hari, kini petugas harus merespons hingga 15 panggilan darurat setiap harinya.
Hery menjelaskan, genangan air akibat hujan deras memaksa ular meninggalkan habitat aslinya. Reptil ini bergerak mencari tempat yang lebih hangat dan kering, dan rumah warga menjadi sasaran utama. “Karena hewan itu mencari tempat yang hangat, makanya ular masuk ke rumah warga,” ujarnya di Sampit, Jumat.
Kondisi lingkungan yang kurang terawat turut memperparah situasi. Tumpukan barang bekas, rumput liar yang tinggi, dan saluran drainase yang kotor menjadi tempat persembunyian favorit ular. Wilayah Kecamatan Baamang, khususnya kawasan Wengga Metropolitan, menjadi salah satu zona dengan laporan evakuasi tertinggi.
Kawasan Wengga Metropolitan yang berkembang sebagai area perumahan baru, ternyata menyimpan risiko tersendiri. Petugas Disdamkarmat beberapa kali mengevakuasi ular kobra, jenis berbisa yang mematikan, di lokasi tersebut. “Di wilayah Wengga Metropolitan cukup sering ditemukan ular kobra. Kemungkinan karena kawasan itu dulunya habitat mereka,” ungkap Hery.
Setiap hari, setidaknya ada lima laporan khusus ular masuk rumah. Angka ini diperkirakan masih akan bertambah selama musim hujan masih berlangsung. Masyarakat diimbau untuk tidak panik dan segera melapor jika menemukan ular di sekitar tempat tinggal.
Disdamkarmat Kotim mengingatkan warga agar tidak mencoba menangkap atau membunuh ular secara mandiri, terutama jika tidak memiliki keahlian. Tindakan tersebut justru membahayakan keselamatan. “Kalau menemukan ular di rumah atau lingkungan sekitar, segera laporkan ke Damkarmat Kotim agar bisa ditangani dengan aman,” pesan Hery.
Ular yang berhasil dievakuasi akan dilepasliarkan kembali ke habitat yang jauh dari permukiman. Namun, untuk jenis berbisa seperti kobra, penanganannya dilakukan oleh tenaga ahli dengan peralatan khusus. Petugas juga mengimbau warga untuk rutin membersihkan halaman dan saluran air guna meminimalkan potensi munculnya ular.
Selain ancaman ular, genangan air yang merendam permukiman mengganggu aktivitas sehari-hari warga. Mobilitas terhambat dan risiko penyakit kulit meningkat. Disdamkarmat terus bersiaga menghadapi kondisi darurat akibat cuaca ekstrem yang diprediksi masih akan berlangsung beberapa pekan ke depan.