Bawang Dayak dari Lahan Bekas Terbakar Disulap Jadi Minuman Herbal oleh Siswa SD di Kotim, Kini Dipesan Pemda

Penulis: Hendra Wijaya  •  Selasa, 12 Mei 2026 | 15:33:53 WIB
Siswa SDN 4 Ketapang mengolah bawang dayak dari lahan bekas terbakar menjadi minuman herbal.

PALANGKA RAYA — Lahan bekas kebakaran di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tak lagi dibiarkan begitu saja. Siswa SDN 4 Ketapang mengubahnya menjadi kebun bawang dayak yang kemudian diolah menjadi serbuk minuman herbal, dan produk itu kini rutin dipesan untuk acara-acara pemerintah daerah.

Inovasi itu lahir dari pendampingan Gerakan Transformasi Edukasi (GENERASI) yang diinisiasi PT Trakindo Utama. Program ini mendorong pembelajaran berbasis tantangan, di mana siswa diajak memecahkan masalah nyata di lingkungan sekitar.

Dari Dodol Gagal Hingga Serbuk Herbal

Prosesnya tidak instan. Guru sekaligus Ketua Adiwiyata SDN 4 Ketapang, Asykuriah, menceritakan bahwa siswa sempat berkali-kali gagal. "Dalam beberapa percobaan awal, hasilnya belum sesuai harapan. Bawang dayak yang seharusnya menjadi serbuk justru berubah seperti dodol karena prosesnya belum tepat," ujarnya.

Dari kegagalan itu, kata Asykuriah, anak-anak belajar untuk terus memperbaiki. "Awalnya kami hanya mengolah secara sederhana, kemudian terus dikembangkan agar lebih praktis dan mudah dikonsumsi," tambahnya.

Dampak ke Percaya Diri Siswa

Keterlibatan langsung dalam proses produksi hingga promosi produk membawa perubahan pada mental siswa. Salah satunya dirasakan Nafisa, yang mengaku awalnya takut bicara di depan umum. "Tapi setelah sering mencoba, sekarang jadi lebih berani. Bahkan saya senang kalau diminta menjelaskan proses pembuatan bawang dayak ke orang lain," katanya.

Pendamping Program GENERASI Trakindo, Firman Apriandi, menilai kunci keberhasilan ada pada pola pikir berkembang yang dibangun di sekolah. "Bu Asykur sebagai penggerak tidak berhenti pada satu inovasi, tetapi selalu terbuka untuk mencoba hal baru dan melihat tantangan sebagai peluang," jelasnya.

Dari Sekolah ke Panggung Daerah

Produk herbal bawang dayak buatan siswa kini tak hanya dikenal di lingkungan sekolah. Asykuriah menyebut dampaknya meluas ke ranah ekonomi dan sosial. "Sekarang bukan hanya siswa yang belajar, tetapi masyarakat juga ikut merasakan manfaatnya. Ada yang datang untuk membeli, ada yang meminta bibit, bahkan sekolah lain datang untuk belajar," paparnya.

Corporate Communication dan CSR Manager PT Trakindo Utama, Candy Sihombing, menegaskan program GENERASI dirancang untuk membangun sistem pembelajaran kontekstual. "Kami melihat bahwa ketika sekolah konsisten mengembangkan cara belajar seperti ini, dampaknya dirasakan tidak hanya oleh siswa, tetapi juga oleh lingkungan di sekitarnya," ujarnya.

Reporter: Hendra Wijaya
Sumber: balanganews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top