Turis Norwegia Ikut Gotong Royong Bersihkan Saluran Air di Sampit, 50 Relawan Angkat Eceng Gondok dan Temukan Ular Piton 2 Meter

Penulis: Faizal Ramadhan  •  Selasa, 12 Mei 2026 | 12:16:14 WIB
Turis Norwegia bergabung dalam gotong royong bersihkan saluran air di Sampit.

SAMPIT — Seorang turis asal Norwegia yang kebetulan tengah berkunjung ke Kota Sampit ikut bergabung dalam aksi gotong royong membersihkan aliran sungai di kawasan Sei Keramat, Senin. Ia terpanggil untuk turun langsung bersama puluhan aktivis lingkungan dan relawan pemuda yang tengah fokus membebaskan saluran air dari tumbuhan liar dan tumpukan sampah.

Kegiatan yang dipusatkan di Kelurahan Baamang ini melibatkan unsur kecamatan, kelurahan, hingga Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang menurunkan satu unit mobil operasional. Dalam aksi tersebut, para relawan berhasil membersihkan sekitar 10 meter aliran sungai dari eceng gondok, rumput liar, dan sampah yang selama ini menyumbat aliran air.

Banjir Picu Gerakan Sosial Tanpa Menyudutkan Siapa Pun

Harie, salah satu aktivis lingkungan yang menginisiasi kegiatan, menegaskan bahwa aksi ini lahir dari keprihatinan terhadap banjir yang belakangan kerap merendam sejumlah titik di Kota Sampit setelah hujan deras. Ia menekankan bahwa gerakan ini murni sosial dan tidak bertujuan untuk menyudutkan pihak mana pun.

“Kami tidak memaksa siapapun untuk ikut, intinya siapa saja yang peduli silakan bergabung. Kami tidak bermaksud menyinggung siapa pun, hanya ingin mengajak masyarakat lebih peduli,” ujar Harie di sela kegiatan.

Semak Lebat Jadi Sarang Ular Piton di Pemukiman Padat

Di sela-sela pembersihan, para relawan dikejutkan dengan penemuan seekor ular piton sepanjang kurang lebih dua meter yang bersembunyi di tumpukan semak dan tumbuhan liar. Lokasinya berada tepat di tengah kawasan permukiman padat penduduk, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan warga.

Ular tersebut segera dievakuasi oleh tim relawan untuk kemudian dilepasliarkan kembali ke habitat yang jauh dari permukiman. Penemuan satwa liar ini menjadi pengingat bahwa lingkungan yang kotor, lembap, dan dipenuhi semak dapat memicu munculnya hewan berbahaya ke area tempat tinggal warga.

Edukasi Langsung ke Warga: Sampah di Drainase Picu Banjir dan Satwa Liar

Selain membersihkan saluran air, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi langsung kepada masyarakat sekitar. Para relawan menjelaskan dampak membuang sampah sembarangan, terutama di kawasan drainase dan bantaran sungai, yang bisa memperparah risiko banjir saat hujan deras turun.

Harie menambahkan, lingkungan yang bersih tidak hanya mengurangi risiko banjir tetapi juga meminimalkan kemunculan satwa liar dan potensi konflik antara hewan dengan manusia. Ia berharap gerakan serupa bisa terus berkelanjutan dengan jumlah peserta yang lebih banyak.

“Persoalan lingkungan tidak bisa diselesaikan oleh satu kelompok saja. Butuh keterlibatan bersama antara masyarakat, pemerintah, dan komunitas. Kalau kesadaran tumbuh, lingkungan kita akan lebih terjaga,” pungkasnya.

Reporter: Faizal Ramadhan
Sumber: kalteng.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top