KALIMANTAN TENGAH — Pergerakan rupiah di pasar spot pagi ini memperpanjang tekanan yang sudah terlihat sejak awal pekan. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), kurs rupiah pada Senin (11/5) berada di Rp17.415, melemah 40 poin dari posisi Jumat sebelumnya di Rp17.375. Kini, laju depresiasi semakin dalam dengan rupiah diperdagangkan di kisaran Rp17.489 per dolar AS pada pukul 09.04 WIB.
Pengamat Ekonomi dan Pasar Uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah masih akan fluktuatif dengan kecenderungan melemah. "Mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp17.410—Rp17.460," ujarnya dalam keterangan yang dikutip hari ini.
Bank Indonesia (BI) mencatat IKK pada April 2026 berada di level 123,0, meningkat tipis dari 122,9 pada Maret. Angka ini masih berada di zona optimistis atau di atas indeks 100. Kenaikan ini terutama didorong oleh membaiknya Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang naik dari 115,4 menjadi 116,5, menandakan perbaikan persepsi masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja, penghasilan, dan daya beli.
Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) masih terjaga di level optimistis 129,6, meskipun sedikit turun dari 130,4 pada bulan sebelumnya. Artinya, konsumen tetap optimistis terhadap prospek ekonomi ke depan, hanya dengan tingkat keyakinan yang sedikit lebih moderat.
Namun, sentimen positif dari dalam negeri ini belum mampu membendung tekanan eksternal yang lebih dominan. Pasar global saat ini tengah dihadapkan pada eskalasi risiko geopolitik yang kembali memicu aksi lari ke aset aman (safe haven).
Faktor eksternal menjadi pemicu utama pelemahan rupiah. Presiden AS Donald Trump menyebut tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian AS sebagai "sama sekali tidak dapat diterima". Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran akan konflik terbuka di Timur Tengah, mendorong investor global untuk memborong dolar AS.
Penguatan dolar secara luas ini menekan hampir seluruh mata uang emerging market, termasuk rupiah. Data makroekonomi domestik yang solid kerap kali kalah pengaruh jika dibandingkan dengan gejolak geopolitik yang mendadak dan sulit diprediksi. Investor cenderung memilih likuiditas dolar ketimbang aset berdenominasi rupiah dalam situasi ketidakpastian tinggi.
Bagi importir dan perusahaan yang memiliki utang dalam mata uang dolar AS, pelemahan ini berpotensi meningkatkan beban biaya operasional. Sebaliknya, eksportir justru diuntungkan karena penerimaan dalam dolar AS bernilai lebih tinggi saat dikonversi ke rupiah.
Dari sisi pasar modal, tekanan pada rupiah kerap diikuti oleh aksi jual asing di pasar saham dan obligasi. Investor perlu mencermati pergerakan kurs sebagai salah satu indikasi arah aliran modal asing dalam jangka pendek. BI diperkirakan akan terus melakukan intervensi ganda (dual intervention) di pasar spot dan Surat Berharga Negara (SBN) untuk menjaga stabilitas.
Investasi mengandung risiko. Pergerakan nilai tukar sangat dipengaruhi oleh dinamika global yang berubah cepat, sehingga pelaku pasar disarankan untuk melakukan lindung nilai (hedging) guna mengelola eksposur terhadap fluktuasi kurs.