KUALA KURUN — Bupati Gunung Mas Jaya S Monong memimpin langsung apel yang dihadiri jajaran TNI-Polri, BPBD, Manggala Agni, Damkar, Tagana, dan Relawan Masyarakat Peduli Api. Ia menegaskan apel tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan sarana mengevaluasi kesiapan alat, perangkat, dan personel menghadapi potensi eskalasi karhutla hingga akhir September 2026.
"Tujuan apel ini untuk memastikan kesiapsiagaan kita dalam menanggulangi bencana karhutla, sehingga seluruh instansi dapat mempersiapkan sarpras dan sumber daya yang ada," kata Jaya.
Kesiapan Personel dan Alat BPBD Gunung Mas
Kepala Pelaksana BPBD Gunung Mas Karya menyebut pihaknya didukung 19 personel PNS, 35 PPPK, dan dua tenaga outsourcing. Seluruh kendaraan operasional disebut dalam kondisi siap digunakan di lapangan.
Sarana yang dimiliki BPBD meliputi mobil tangki air, mobil dapur, firejeep, mobil rescue comando, truk L-300, mobil pick up, motor damkar, tujuh unit sepeda motor trail, dan satu unit Toyota Hilux.
127 Desa Bentuk Masyarakat Peduli Api, Sebagian Belum Terlatih
Karya menambahkan, dari 127 desa/kelurahan di Gunung Mas, seluruhnya telah membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA). Namun, baru 58 MPA yang mendapat pelatihan, sementara 69 lainnya belum.
Sebagai dukungan operasional, BPBD telah menyalurkan alat pelindung diri ke 124 desa, mesin pompa ke 127 desa, serta empat unit motor roda tiga untuk empat kecamatan.
Imbauan ke Perusahaan dan Masyarakat saat Musim Kemarau
Bupati Jaya mengajak seluruh instansi terkait untuk berkoordinasi dan bahu membahu mewujudkan Gunung Mas bebas asap pada 2026. Kepada perusahaan besar swasta, ia menekankan agar bertanggung jawab penuh terhadap wilayah konsesi masing-masing dan akan diproses sesuai aturan apabila ditemukan titik hotspot di area tersebut.
Orang nomor satu di lingkup Pemkab Gumas itu juga mengimbau masyarakat dan pekebun untuk berhati-hati serta meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya karhutla, terutama selama musim kemarau panjang. Ia berharap seluruh pihak melaksanakan sosialisasi dan edukasi bahaya karhutla, patroli rutin, pemetaan wilayah rawan, pemasangan spanduk imbauan, serta mendirikan pos komando di daerah rawan.