KALIMANTAN TENGAH — Jakarta – Dunia tengah menghadapi situasi paradoks di tengah krisis iklim. Alih-alih menggenjot pendanaan hijau, laju pertumbuhan pembiayaan iklim global justru melambat. Padahal, emisi karbon dari pembakaran energi fosil masih terus meningkat.
Laporan Global Landscape of Climate Finance 2026 yang dirilis Climate Policy Initiative (CPI) mencatat, total pembiayaan iklim global untuk pertama kalinya menembus angka USD2 triliun pada 2024, tepatnya mencapai USD2,008 triliun. Namun, pertumbuhan tahunannya merosot menjadi hanya 6%, jauh di bawah laju 16% pada 2023 dan 22% pada 2022.
"Pertumbuhan pembiayaan iklim melambat pada saat percepatan justru sangat dibutuhkan," demikian pernyataan dalam laporan tersebut, dikutip dari Down To Earth, Rabu (1/7/2026).
Emisi Energi Masih Naik, AS Jadi Kontributor Utama
Di sisi lain, laporan Energy Institute menunjukkan emisi karbon global dari sektor energi masih naik 1,1% menjadi 35.806 juta metrik ton karbon dioksida. Lebih dari sepertiga kenaikan emisi ini berasal dari Amerika Serikat, menandakan masih tingginya ketergantungan pada energi fosil di negara maju.
Kondisi ini menjadi tekanan langsung bagi Indonesia. Pertamina misalnya, tengah menggenjot produksi bahan bakar nabati (BBN) dan proyek carbon capture. Sementara itu, PLN gencar membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan memensiunkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) secara bertahap. Kedua program ini membutuhkan suntikan dana yang masif.
Dampak ke Transisi Energi BUMN
Melambatnya pertumbuhan pembiayaan iklim global berpotensi membuat target transisi energi di Indonesia semakin berat. Proyek-proyek hijau Pertamina dan PLN yang sebelumnya mengandalkan pendanaan multilateral atau obligasi hijau (green bond) bisa mengalami penundaan atau kenaikan biaya modal (cost of capital).
Jika tren ini berlanjut, pencapaian target Net Zero Emission (NZE) 2060 yang dicanangkan pemerintah berpotensi meleset. Pasalnya, kebutuhan investasi untuk transisi energi di Indonesia diperkirakan mencapai miliaran dolar AS setiap tahunnya.
Laporan CPI menegaskan, dunia tidak hanya membutuhkan lebih banyak uang, tetapi juga percepatan penyaluran dana iklim. Tanpa itu, upaya menahan laju kenaikan suhu bumi akan terus tertinggal dari realitas emisi yang terus membumbung. (Z-3)