KALIMANTAN TENGAH — Rancangan undang-undang yang menarget produsen mobil dengan kepemilikan asal China di atas ambang batas mulai bergerak di Amerika Serikat. Komite Perdagangan Senat AS resmi menyetujui beleid tersebut pada Rabu (22/7/2026) waktu setempat. Langkah ini langsung mengarahkan perhatian ke Mercedes-Benz yang memiliki 20 persen investasi dari China.
Batas Waktu 2030 dan Opsi Pengecualian
Salah satu pengusung RUU, Senator Bernie Moreno, menyatakan Mercedes mendapat masa transisi hingga 2030. Produsen mobil mewah itu bisa mengurangi porsi kepemilikan China atau mengajukan keringanan (waiver) jika ingin tetap beroperasi di AS. “Mercedes punya waktu untuk menyesuaikan diri, bukan diusir langsung,” ujar Moreno dalam pernyataan yang dikutip Reuters.
Namun tekanan politik tak cuma datang dari kubu pendukung RUU. Senator Ted Cruz menuding General Motors (GM) berada di balik dorongan larangan ini. Menurut Cruz, GM ingin Cadillac mengambil alih pangsa pasar Mercedes jika pabrikan Jerman itu terpaksa hengkang. GM membantah tuduhan tersebut dan menyebut dukungannya terhadap RUU bersifat prinsipil, bukan untuk menyingkirkan pesaing tertentu.
Konsekuensi bagi Pasar Global dan Rantai Pasok
Kepemilikan China di Mercedes bukan sekadar angka. Pemegang saham terbesar kedua Mercedes-Benz Group adalah Beijing Automotive Group (BAIC) dengan kepemilikan sekitar 9,98 persen, sementara Geely—perusahaan milik taipan Li Shufu—menggenggam 9,69 persen saham. Totalnya memang melampaui 15 persen, batas maksimal yang diizinkan dalam RUU baru tersebut.
Jika aturan benar-benar berlaku tanpa pengecualian, Mercedes harus memangkas kepemilikan China atau mencari investor baru. Opsi lainnya, perusahaan bisa mengalihkan produksi model-model yang dijual di AS ke pabrik di luar China. Mercedes sendiri memiliki fasilitas perakitan di Alabama, Amerika Serikat, yang memproduksi SUV seperti GLE dan GLS. Pabrik itu bisa menjadi bantalan jika skenario terburuk terjadi.
Konteks Industri: BMW Recall dan Tekanan Biaya Porsche
Di tengah hiruk-pikuk politik dagang ini, kabar teknis lain juga membayangi industri otomotif global. BMW menarik 318.495 unit kendaraan di AS karena motor starter yang berpotensi overheat dan memicu kebakaran. Model terdampak meliputi 3 Series, 4 Series, X3, X4, Z4, dan—yang menarik—Toyota Supra yang berbagi basis mesin dengan BMW Z4.
Porsche juga mengumumkan pemangkasan 5.000 tenaga kerja tambahan di Jerman, menjadikan total pengurangan karyawan mencapai 8.900 orang. Langkah ini bagian dari efisiensi biaya besar-besaran di tengah perlambatan permintaan mobil listrik. Sementara itu, Hyundai mencatat penurunan laba operasional global kuartal II-2026 sebesar 21 persen dibanding periode sama tahun lalu, dengan penjualan di China ambles 33 persen.
Ford-Gelee dan Masa Depan Pabrik Valencia
Ford mengambil langkah berbeda dengan menggandeng Geely. Pabrikan AS itu mengizinkan Geely memanfaatkan kapasitas menganggur di pabrik Valencia, Spanyol. Kedua perusahaan akan mengembangkan kendaraan listrik bersama. Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana hubungan bisnis AS-China di sektor otomotif tak selalu hitam-putih—sekaligus memperumit peta kepatuhan terhadap RUU yang tengah digodok Senat.
Di sisi lain, Aston Martin mengamankan pendanaan utang senilai 550 juta poundsterling (sekitar $736 juta) dari HPS Investment Partners. Saham perusahaan asal Inggris itu langsung melonjak lebih dari 9 persen di bursa London setelah pengumuman tersebut.