KALIMANTAN TENGAH — Upacara Ballon d'Or kembali digelar di Inggris setelah 70 tahun, kali ini di London Palladium. Penghargaan pertama pada 1956 diberikan di balai kota Blackpool kepada Stanley Matthews, pemain yang disebut revolusioner dalam cara berlatih dan menjaga kondisi tubuh.
Perpindahan venue dari Paris ke London menjadi bentuk penghormatan kepada Matthews, pemain aktif pertama yang menerima gelar ksatria pada 1965, beberapa bulan sebelum pensiun di usia 50 tahun. Keluarga Matthews akan hadir dalam acara tersebut.
Putranya, Stanley Matthews Jr, mengaku antusias menyaksikan upacara yang kini jauh berbeda dari momen pertama ayahnya menerima trofi. Ia akan datang bersama saudarinya, Jean, dan dua keponakannya.
Upacara pertama pada 1956 berlangsung sederhana di balai kota Blackpool. Gabriel Hanot, editor visioner L'Équipe yang mencetuskan ide pemain terbaik dunia, menyerahkan trofi langsung kepada Matthews yang saat itu berusia 41 tahun.
Wali kota juga menyerahkan piring porselen khusus sebelum Matthews, yang dikenal tidak pernah menyentuh alkohol, menyampaikan pidato singkat.
"Mungkin hari itu dia minum dua gelas jus wortel," kata Matthews Jr. "Tidak ada upacara. 'Ini Ballon d'Or Anda, kerja bagus', begitu saja. Tapi jelas berkembang selama bertahun-tahun, dan sekarang jadi acara besar. Kami sangat antusias."
Matthews Jr menyebut ayahnya jauh lebih maju dari masanya. Sepatu bola yang dipakai sangat ringan, menyerupai sandal, agar bisa bergerak lebih cepat. Menjelang akhir karier di Stoke, ia meminta pemadam kebakaran menyiram lapangan sebelum pertandingan supaya permukaan lebih licin dan menguntungkan gaya dribelnya.
"Sekarang lapangan disiram sepanjang waktu. Jadi dia sangat revolusioner dalam semua yang dia lakukan, plus soal diet dan latihannya," ujarnya.
Disiplin itu diwarisi dari ayahnya, Jack, petinju kenamaan berjuluk Fighting Barber of Hanley. Matthews juga dikenal rutin berlatih kebugaran di pantai pada pagi hari, kebiasaan yang memperpanjang kariernya.
Hingga kini Matthews tetap menjadi peraih Ballon d'Or tertua. Ia mengoleksi 54 caps bersama timnas Inggris, jumlah yang seharusnya lebih banyak jika Perang Dunia II tidak memotong masa emasnya, dan terakhir membela negaranya pada 1957 di usia 42 tahun.
Matthews Jr menilai ayahnya bisa bertahan lebih lama jika bermain di era modern yang berbasis penguasaan bola. "Dia mungkin akan berpikir: 'Ya ampun, kalau cuma mengoper bola, saya bisa bermain sampai usia 70'," katanya.
Berbeda dari Harry Kane dan favorit Ballon d'Or tahun ini yang berstatus miliarder, Matthews hanya menerima maksimal £20 sepekan sampai batas upah dihapus pada 1961. Produser film Matthews (2017), Joe Pierce, membandingkannya dengan bintang bisbol Joe DiMaggio yang mendapat kontrak 100.000 dolar AS per tahun.
Kondisi itu membuat Matthews merintis berbagai usaha, termasuk merek sepatu bola, topi, buku, dan jus sayur kemasan. "Dia coba mengalengkan jusnya, tapi gagal karena rusak di dalam kaleng," kata Pierce.
Jalur tambahan penghasilan lain adalah melatih di luar negeri pada musim libur. Antara 1953 dan 1978 Matthews mengunjungi satu negara Afrika setiap musim panas, dimulai beberapa bulan setelah meraih Ballon d'Or ketika ia tiba di Ghana untuk laga eksibisi perayaan kemerdekaan.
Di sana ia menerima pedang gading dan dinobatkan sebagai "soccerhene" atau kepala sepak bola. "Raja Ghana, begitu mereka menyebutnya. Saudari saya masih menyimpan bangku tempat dia dinobatkan," ujar Matthews Jr.
Matthews punya kedekatan khusus dengan Afrika Selatan. Pada pertengahan 1970-an ia melatih tim di Soweto yang dikenal sebagai Stan's Men, mengamankan sponsor Coca-Cola, lalu membawa mereka ke turnamen di Brasil.
Pierce terkejut saat mengetahui sejauh mana Matthews melawan tekanan pemerintah apartheid agar tidak melakukan perjalanan. "Ada drama dan bolak-balik sungguhan. Pemerintah Inggris terlibat. Pemerintah Afrika Selatan terlibat. Ada mata-mata di kamp dan sekitarnya, dan dia terus maju," katanya.
Matthews Jr mengenang ayahnya bangga pernah dilarang masuk. "Dia bilang: 'Frank Sinatra juga dilarang.' Jadi menurutnya itu agak lucu," tuturnya.