Proyeksi Silpa Rp350 Miliar di APBD Kalteng 2027 Masih Fluktuatif, Anggota Banggar DPRD Jelaskan Alasannya

Penulis: Irfan Hakim  •  Jumat, 21 Agustus 2026 | 13:43:31 WIB
Anggota Badan Anggaran DPRD Kalteng, Yohanes Freddy Ering, saat menyampaikan penjelasan mengenai proyeksi Silpa Rp350 miliar dalam KUA-PPAS APBD 2027.

DPRD Kalimantan Tengah dan Pemprov Kalteng menyepakati KUA-PPAS Tahun Anggaran 2027 dengan total Rp5,736 triliun. Dalam struktur pembiayaan, terdapat proyeksi Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (Silpa) sekitar Rp350 miliar yang digunakan untuk menutup defisit antara pendapatan dan belanja daerah. Anggota Badan Anggaran DPRD Kalteng, Yohanes Freddy Ering, menegaskan angka tersebut masih bersifat sementara dan bisa berubah.

PALANGKA RAYA — Proyeksi Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (Silpa) sebesar Rp350 miliar dalam Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) APBD Kalimantan Tengah 2027 disebut belum final. Angka itu hanya estimasi awal yang dipakai untuk menyeimbangkan struktur anggaran, mengingat tahun anggaran 2026 masih berjalan.

Dalam KUA-PPAS yang disepakati DPRD bersama pemerintah provinsi, pendapatan daerah diproyeksikan mencapai Rp5,3 triliun, sementara total belanja ditargetkan Rp5,7 triliun. Selisih sekitar Rp350 miliar itulah yang kemudian ditutup melalui pembiayaan yang bersumber dari Silpa.

Mengapa Silpa Bisa Diproyeksikan Sebelum Tahun Anggaran Berakhir?

Anggota Komisi I sekaligus Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kalteng, Yohanes Freddy Ering, menjelaskan bahwa penyusunan anggaran memang selalu menggunakan proyeksi, termasuk untuk Silpa. Hal ini lazim dilakukan agar struktur APBD dapat disusun secara berimbang.

“Enggak apa-apa, kan perkiraan proyeksi. Sekalipun Silpa itu tanpa harus menunggu akhir tahun, tapi itu bisa diproyeksi, bisa diperkirakan,” kata Freddy, Jumat, 21 Agustus 2026.

Faktor Pemicu Perubahan Nilai Silpa

Freddy menyebut proyeksi tersebut mengacu pada kondisi dan realisasi anggaran tahun berjalan. Beberapa komponen seperti tagihan yang belum terealisasi, piutang daerah, hingga dana bagi hasil dinilai dapat mengubah besaran Silpa secara signifikan.

“Misalnya tagihan-tagihan yang tidak terealisasi terbayar, piutang-piutang atau bagi hasil, itu bisa menambah target Silpa,” jelasnya.

Ia menambahkan, angka Rp350 miliar tersebut bukanlah harga mati. Ketika APBD 2027 nanti ditetapkan, nilai Silpa bisa saja tepat sesuai proyeksi, naik, atau justru turun.

“Bisa saja. Bisa tepat, bisa saja sedikit naik atau sedikit kurang,” ujarnya.

Dengan skema ini, total APBD Kalteng 2027 tetap terkunci di angka Rp5,7 triliun. “Minusnya ditutup dengan pembiayaan sebesar Rp350 miliar, sehingga klop APBD 2027 itu di Rp5,7 triliun,” pungkas Freddy.

Reporter: Irfan Hakim
Sumber: beritasampit.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top