KALIMANTAN TENGAH — Google memperkenalkan "HiLight", sebuah lampu LED di bagian belakang perangkat, sebagai salah satu fitur unggulan dari lini Pixel 11 Pro yang meliputi tiga model. Namun, saat peluncuran, fitur ini hanya memiliki dua fungsi: memberi tahu pengguna ketika kontak favorit menelepon dan menandakan asisten Gemini sedang aktif. Keputusan ini dianggap sebagai langkah mundur, mengingat fitur notifikasi LED sederhana sudah ada sejak era ponsel BlackBerry dan Nokia.
HiLight hadir tanpa dukungan untuk notifikasi pesan teks, sebuah celah yang diakui sendiri oleh Google saat presentasi "Made by Google". Padahal, pasar utama yang dibidik adalah generasi muda yang intensitas komunikasinya lebih tinggi melalui aplikasi pesan instan seperti WhatsApp, Instagram, atau Telegram.
Kritik juga datang dari jurnalis teknologi internasional. Mereka menyoroti potensi HiLight yang seharusnya bisa disesuaikan dengan aplikasi tertentu, misalnya lampu berwarna merah atau ungu untuk notifikasi Instagram. Kemampuan itu justru tidak tersedia pada peluncuran perdana.
HiLight bukan kasus pertama. Google punya catatan panjang meluncurkan fitur hardware yang belum matang lalu menghilangkannya setelah beberapa generasi. Pola ini terlihat sejak era Pixel pertama dengan Active Edge yang mengandalkan sensor tekanan untuk membuka Asisten Google, hingga sensor suhu di Pixel 8 Pro yang butuh waktu berbulan-bulan untuk mendapatkan fungsi pengukuran suhu tubuh.
Sensor suhu di Pixel 8 Pro adalah contoh paling relevan. Saat dirilis, fitur itu hanya bisa mengukur suhu permukaan benda, membuatnya nyaris tak berguna bagi konsumen awam. Dukungan untuk mengukur suhu tubuh baru datang beberapa bulan kemudian, tetapi reputasi buruknya sudah terlanjur melekat dan fitur tersebut akhirnya dihapus pada generasi Pixel 11.
Kritik utama terhadap HiLight adalah hilangnya peluang untuk menghadirkan notifikasi LED yang sebenarnya sudah lama dinantikan pengguna. Dengan fungsi yang tepat, LED di bagian belakang bisa menjadi indikator visual yang tidak mengganggu, terutama saat ponsel dalam keadaan senyap atau menghadap ke bawah di atas meja.
Kustomisasi warna berdasarkan aplikasi adalah fitur yang sangat diminati, seperti yang pernah populer di perangkat Android lawas. Tanpa kemampuan ini, HiLight hanya menjadi lampu kilat untuk panggilan telepon, sebuah fungsi yang dianggap ketinggalan zaman di tengah dominasi komunikasi berbasis teks.
Keputusan Google untuk merilis HiLight dengan fungsi terbatas berisiko mengulang kegagalan sensor suhu. Kesan pertama yang buruk sulit diperbaiki, meskipun pembaruan perangkat lunak nantinya menambahkan fitur yang lebih berguna. Publik cenderung mengingat kegagalan awal sebuah produk daripada perbaikannya di kemudian hari.
Bagi konsumen Indonesia yang akrab dengan merek seperti Xiaomi atau Samsung, fitur notifikasi LED bukanlah hal baru. Banyak perangkat entry-level dari merek Tiongkok sudah memiliki LED notifikasi yang bisa diatur per aplikasi. Ini membuat HiLight versi Pixel terasa kurang kompetitif, terutama dengan banderol harga Pixel 11 Pro yang mencapai USD 1.099 atau setara Rp 18,1 juta.
Belum ada jadwal pasti kapan Google akan memperluas fungsi HiLight ke notifikasi aplikasi lain. Jika perusahaan ingin fitur ini bertahan, pembaruan perangkat lunak dalam beberapa bulan ke depan akan menjadi penentu. Namun, berdasarkan pengalaman dengan sensor suhu Pixel 8 Pro, jalan menuju penerimaan publik akan terjal dan penuh kritik.