KALIMANTAN TENGAH — PT Timah Tbk (TINS) membukukan laba bersih Rp 4,12 triliun sepanjang Januari-September 2026, melonjak 584 persen dari Rp 602,4 miliar di periode sama tahun lalu. Lonjakan ini ditopang harga timah global yang bertahan di level tinggi akibat defisit pasokan dunia.
PT Timah Tbk (TINS) mencatat rekor laba tertinggi sepanjang sejarah perseroan. Capaian sembilan bulan pertama 2026 itu sejalan dengan pendapatan yang terbang 144 persen menjadi Rp 16,14 triliun, dari sebelumnya Rp 6,6 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Direktur Utama PT Timah, Restu Widiyantoro, menyebut kinerja ini lahir dari penguatan operasional dan keuangan perseroan. Menurut dia, produktivitas naik, kegiatan usaha dioptimalkan, penjualan dikelola efektif, dan pengelolaan keuangan dijaga disiplin.
"Capaian ini mencerminkan penguatan kinerja operasional dan keuangan melalui peningkatan produktivitas, optimalisasi kegiatan usaha, pengelolaan penjualan yang efektif, dan disiplin dalam pengelolaan keuangan," ujar Restu, Jumat (30/10/2026).
Pemicu utama lonjakan laba adalah harga timah dunia. Rata-rata Cash Settlement Price (CSP) di London Metal Exchange (LME) pada Januari-September 2026 mencapai US$ 51.636 per ton, naik 57,55 persen dibanding tahun lalu yang US$ 32.775 per ton.
Kenaikan harga ditopang defisit pasokan global. Produksi timah dunia pada sembilan bulan 2026 hanya 264.064 ton, kalah dari konsumsi yang mencapai 275.047 ton. Stok di gudang LME pun menipis 17,3 persen menjadi 4.480 ton.
Pasokan makin ketat karena pengiriman bijih dari Myanmar ke China belum pulih ke level historis. Tambang anak usaha Malaysia Smelting Corporation juga sempat berhenti operasi sebulan akibat hujan ekstrem pada Agustus-September 2026.
Di sisi lain, permintaan timah justru punya prospek cerah dari sektor elektronik, semikonduktor, dan infrastruktur Artificial Intelligence (AI). Kesenjangan antara pasokan dan permintaan ini diprediksi berlanjut dalam jangka panjang.
International Tin Association (ITA) memproyeksikan permintaan timah global naik 22 persen pada 2026-2035, sementara pasokan hanya tumbuh 16 persen. Artinya, kebutuhan dunia akan timah bakal terus melampaui kemampuan produksi tambang yang ada.
"Kesenjangan proyeksi tersebut menegaskan perlunya pengembangan kapasitas pertambangan baru untuk memenuhi peningkatan kebutuhan timah global di masa mendatang," tulis manajemen PT Timah.
Manajemen memastikan akan terus memperkuat kinerja dan menjaga kesinambungan usaha. Fokusnya, menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan.
"Ke depan, kami akan terus memperkuat kinerja dan menjaga kesinambungan usaha guna menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan," tutup Restu.
Lompatan laba PT Timah jauh melampaui capaian tahun lalu. Dengan harga timah yang masih bertahan tinggi dan struktur pasokan global yang ketat, emiten pelat merah ini berada di posisi kuat untuk menutup 2026 dengan kinerja terbaiknya.