SAMPIT — Kepala Bagian Teknik Perumdam Tirta Mentaya Edy Dyufriadi menyatakan hasil pengukuran salinitas air masih berada di angka 4.700 PPM. Angka itu membuat air yang disalurkan ke pelanggan belum direkomendasikan untuk dikonsumsi.
Wilayah terdampak meliputi Kota Sampit di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Baamang hingga kawasan selatan Kotim. Masyarakat sementara diminta memakai air distribusi hanya untuk mandi, cuci, dan kakus (MCK).
Menurut Edy, curah hujan dua hari terakhir lebih banyak turun di sekitar perkotaan Sampit. Wilayah hulu Sungai Mentaya belum mendapat hujan yang cukup untuk mendorong intrusi air laut kembali ke muara.
Pasokan air tawar dari kawasan hulu dibutuhkan agar kadar garam di sepanjang aliran sungai berangsur menurun. Tanpa tambahan debit dari hulu, kondisi air baku diperkirakan belum berubah dalam waktu dekat.
"Kalau hanya hujannya 10 menit ya belum. Harapan kita dengan adanya hujan ini, tanah yang saat ini masih kering bisa terisi dulu. Hujan itu tidak langsung ke sungai, dia masih mengisi yang kosong-kosong itu dulu, baru masuk ke sungai," jelas Edy.
Edy menjelaskan, hujan berdurasi singkat belum tentu langsung menambah debit air tawar di sungai. Sebagian air hujan lebih dulu meresap ke tanah yang masih kering setelah kemarau panjang.
Karena itu, diperlukan hujan dengan intensitas cukup tinggi dan cakupan wilayah lebih luas, terutama di kawasan hulu. Air yang tersimpan di tanah nantinya mengalir dan menambah pasokan air tawar ke Sungai Mentaya.
Warga Baamang, Ardianto, menyampaikan rasa air PDAM masih payau dan belum terpengaruh hujan belakangan. "Rasanya masih payau, hujan kemarin masih rendah sehingga air sungai yang menjadi sumber air PDAM masih berasa asin," ujarnya, Jumat 30 Oktober 2026.
Keluhan serupa muncul di sejumlah wilayah pelanggan yang masih menerima air dengan kadar garam tinggi. Perumdam Tirta Mentaya belum memberi keterangan kapan kualitas air baku diperkirakan membaik.
Edy mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan diri mengonsumsi air distribusi Perumdam selama kadar garamnya masih tinggi. Konsumsi air dengan kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak terhadap kesehatan.
Bagi warga yang memiliki penyakit bawaan, air berkadar garam tinggi berpotensi memperburuk kondisi, termasuk berkaitan dengan tekanan darah dan gangguan pencernaan. Pembatasan pemanfaatan air untuk MCK diminta tetap berjalan sampai kualitas air baku kembali membaik.