Harga Solar AS Tembus 6 Dolar per Galon, Trump Tertekan Jelang Pemilu Paruh Waktu

Penulis: Joko Purnomo  •  Selasa, 27 Oktober 2026 | 17:53:01 WIB
Harga solar di Amerika Serikat menembus 6 dolar AS per galon pada 22 September 2026.

KALIMANTAN TENGAH — Harga solar di Amerika Serikat menembus 6 dolar AS per galon pada 22 September 2026, rekor tertinggi yang membebani pemerintahan Presiden Donald Trump menjelang pemilu paruh waktu. Angka ini jauh di atas rata-rata era Joe Biden yang berkisar 4 dolar AS per galon, dengan kenaikan dikaitkan pada perang terhadap Iran dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz.

Data asosiasi otomotif Amerika Serikat yang dikutip Reuters menunjukkan masyarakat kini membayar lebih mahal untuk bensin dan solar dibanding masa pemerintahan sebelumnya. Kenaikan harga solar dari sekitar 4 dolar AS per galon pada era Biden menjadi 4,343 dolar AS per galon pada masa Trump memukul sektor pertanian, industri berat, hingga angkutan barang yang bergantung pada bahan bakar ini.

Rekor 6 Dolar AS per Galon pada 22 September

Pada 22 September, harga solar di Amerika Serikat menembus 6 dolar AS per galon. Laporan Kantor Berita Mehr yang mengutip Reuters menyebut angka itu sebagai rekor tertinggi.

Pemicunya bukan faktor domestik semata. Kebijakan luar negeri Washington yang memicu perang terhadap Iran disebut memperburuk krisis bahan bakar, ditambah gangguan pelayaran di Selat Hormuz yang mengganggu jalur distribusi minyak.

Dampak ke Sektor Pertanian hingga Angkutan Barang

Solar menopang hampir seluruh rantai ekonomi Amerika Serikat. Petani membayar lebih mahal untuk mengoperasikan mesin, industri berat menanggung biaya produksi lebih tinggi, dan armada truk mengerek tarif angkutan.

Efek berantainya sampai ke harga barang konsumsi. Masyarakat mulai mengeluhkan biaya hidup, dan keluhan itu bergerak cepat ke ranah politik karena pemilu paruh waktu sudah di depan mata.

Dukungan ke Trump Merosot ke Titik Terendah

Jajak pendapat Reuters bulan ini menempatkan tingkat penerimaan Trump pada posisi terendah. Hanya 23 persen warga Amerika Serikat yang menyatakan mendukung kebijakan ekonomi presiden dari Partai Republik itu.

Angka 23 persen menjadi sinyal bahaya bagi Partai Republik yang akan bertarung di pemilu paruh waktu. Harga BBM adalah indikator yang paling langsung dirasakan pemilih, dan kenaikan tajam menjelang hari pencoblosan sulit dibantah dengan narasi ekonomi makro.

Selat Hormuz dan Perang Iran di Pusat Persoalan

Gangguan pelayaran di Selat Hormuz menahan pasokan minyak mentah ke pasar global. Jalur sempit itu dilalui sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk, sehingga setiap ketegangan di sana langsung terasa di harga bahan bakar.

Kebijakan pemerintahan Trump terhadap Iran memperpanjang ketidakpastian. Pasar tidak hanya bereaksi pada pasokan yang terganggu, tetapi juga pada risiko eskalasi yang membuat pedagang menaikkan premi harga.

Bensin Ikut Naik, Beban Ganda bagi Konsumen

Selain solar, harga bensin juga bergerak naik pada masa pemerintahan Trump dibanding era Biden. Dua jenis bahan bakar utama itu menanggung beban yang sama: ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan biaya distribusi yang membengkak.

Bagi pemilik kendaraan pribadi di Amerika Serikat, kenaikan ini memangkas daya beli. Bagi pelaku usaha kecil yang bergantung pada armada, biaya operasional naik tanpa ruang menaikkan harga jual secara proporsional.

Ujian Politik Sebelum Pencoblosan

Pemilu paruh waktu menjadi ajang penilaian atas kinerja ekonomi pemerintahan yang sedang berkuasa. Harga bahan bakar berada di urutan teratas daftar keluhan pemilih karena angkanya terlihat setiap hari di papan reklame stasiun pengisian.

Trump menghadapi dilema: menekan harga BBM butuh langkah cepat di pasar energi global, sementara kebijakan luar negeri yang memicu kenaikan justru menjadi bagian dari basis politiknya. Selama Selat Hormuz belum stabil, tekanan pada harga solar dan bensin Amerika Serikat kemungkinan bertahan hingga hari pencoblosan.

Reporter: Joko Purnomo
Sumber: ahlulbaitindonesia.or.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top