KALIMANTAN TENGAH — FC Copenhagen (FCK) memulai proyek tim wanita mereka dengan ambisi besar setelah berkolaborasi dengan FC Damsø, dan kini berlaga di kasta tertinggi Liga Denmark. Dalam 26 bulan, mereka menembus A-Liga lewat dua promosi beruntun, tetapi musim perdana di kompetisi elit justru menghadirkan ujian berat yang sesungguhnya.
Laga pertama tim wanita FCK digelar di Vanløse Idrætsppark dengan kehadiran 5.165 penonton. Klub yang telah mengoleksi 16 gelar liga pria itu membangun tim wanita melalui kolaborasi dengan FC Damsø, membawa proyek ambisius yang menyasar dampak luas di dalam maupun luar lapangan.
Perjalanan 26 bulan sejak laga perdana itu berbuah dua promosi beruntun hingga menembus A-Liga. Kini FCK bermain di divisi teratas dan harus beradaptasi cepat agar tidak terdegradasi.
"Rencananya memang selalu sampai ke sini secepat mungkin," kata Romaney Pinnock, Head of Women's Football FCK, yang sebelumnya menjabat posisi serupa di Bristol City.
FCK memanfaatkan infrastruktur klub utama untuk membangun identitas tim wanita yang berbeda. Mereka punya jersey sendiri, sponsor sendiri, dan pengalaman hari pertandingan tersendiri. Hasilnya, derby terbaru melawan Brøndby di Parken dihadiri 8.047 penonton, sebuah rekor untuk A-Liga.
"Sejauh ini berat," ujar penyerang Maria Hovmark. "Sekitar 80-90% pemain belum pernah bermain di liga teratas, jadi ini tantangan."
FCK berkompetisi di liga yang masih dalam tahap pembangunan. Asosiasi Sepak Bola Denmark (DBU) mendorong penguatan kompetisi domestik lewat investasi lebih besar, eksposur yang lebih luas, dan penetapan standar minimum. Juara bertahan HB Køge kembali ke Liga Champions utama untuk pertama kalinya sejak 2022, sementara Brøndby tampil di babak 16 besar Europa Cup.
"Saya mengira sepak bola wanita Denmark sudah lebih setara karena politik Denmark, tapi ternyata masih di tahap awal perjalanan," ujar Pinnock.
FCK memakai model berbeda dari Køge yang bisa berinvestasi langsung di lapangan. Ambisi jangka panjang FCK adalah bersaing merebut trofi, berlaga di Eropa, dan masuk ke pasar transfer global. Mereka juga ingin mengembangkan pemain lokal agar bertahan di Denmark, sekaligus memulangkan talenta berpengalaman seperti Hovmark.
"Liga ini makin profesional karena beberapa tim sekarang penuh waktu. Itu membuat levelnya naik," kata Hovmark.
Dampak sosial menjadi bagian penting proyek ini. Kampanye "Hall of Femmes" bersama mitra utama Andel memberi pesepak bola wanita muda kesempatan tampil di banner Parken dan dua beasiswa tahunan untuk pemain usia 14-19. FCK juga menguji model akademi yang menggabungkan pemain putra dan putri sesuai usia, kemampuan, dan kebutuhan perkembangan, bukan berdasarkan gender.
Prioritas utama saat ini adalah bertahan di A-Liga. Namun kesabaran tidak akan berlaku selamanya. "Kami akan mendapat masa tenggang dua atau tiga musim," kata Pinnock. "Setelah itu kami harus benar-benar menjalankan model FCK, yaitu harus jadi pemenang dan menuju puncak."