PALANGKA RAYA — Kabut asap karhutla yang menyelimuti Kalimantan Tengah memaksa Dinas Pendidikan Provinsi setempat mengubah moda pembelajaran di ratusan sekolah. Data Kelas Digital Huma Betang yang diperbarui pukul 12.35 WIB menunjukkan 135 dari 424 satuan pendidikan atau sekitar 32 persen telah menerapkan BDR daring penuh.
Hanya 9 satuan pendidikan yang masih menjalankan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) normal. Sisanya menerapkan skema pembelajaran terbatas dengan penyesuaian kondisi kualitas udara masing-masing wilayah.
Dashboard tersebut juga mencatat 273 kelas virtual live yang berjalan selama kondisi darurat. Pemantauan mencakup 14 kabupaten/kota di Kalteng.
Konsentrasi partikulat di sejumlah wilayah jauh di atas ambang aman. Kabupaten Gunung Mas mencatat 2.373 PM10, disusul Kotawaringin Timur 1.197 PM10, Barito Selatan 771 PM10, Murung Raya 586 PM10, dan Kota Palangka Raya 581 PM10.
Wilayah dengan parameter PM2.5 meliputi Katingan 468, Barito Utara 429, Barito Timur 366, Lamandau 239, Sukamara 231, Kotawaringin Barat 170, Pulang Pisau 169, Kapuas 165, dan Seruyan 160.
Dashboard Kelas Digital Huma Betang secara otomatis menampilkan rekomendasi moda belajar berdasarkan kondisi udara. Rentangnya mulai dari PJJ/BDR daring penuh hingga PTM terbatas dengan penggunaan masker.
Laporan kesehatan dari pemantauan UKS dan fasilitas kesehatan mencatat 339 murid mengalami ISPA atau gangguan pernapasan. Angka tersebut menjadi salah satu indikator utama dalam penentuan kebijakan pembelajaran.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah Muhammad Reza Prabowo menegaskan perubahan moda pembelajaran tidak menghentikan proses pendidikan.
"PJJ bukan berarti anak-anak libur. Pembelajaran tetap berjalan dan dikontrol melalui Kelas Digital Huma Betang," ujar Reza.
Menurut Reza, sistem digital tersebut memungkinkan pemantauan data kualitas udara, status pembelajaran, kelas virtual, hingga laporan dampak kesehatan secara cepat. Respons terhadap kabut asap dapat disesuaikan dengan situasi masing-masing wilayah.