PALANGKA RAYA — Indonesia dan China terus mengakselerasi kolaborasi di sektor energi baru. Pameran Industri Energi Internasional (Taiyuan) China 2026 menjadi ajang pertemuan perusahaan kedua negara, dan delegasi Indonesia untuk pertama kalinya ikut serta dalam pameran tersebut.
Energi baru menjadi topik utama yang dibahas perusahaan-perusahaan dari kedua negara. Qiu Xingyi, perwakilan peserta pameran dari Indonesia, menyebut China dan Indonesia punya potensi besar untuk bekerja sama di sektor energi baru, seperti tenaga angin dan fotovoltaik, selain batu bara.
Qiu menambahkan, perusahaannya telah membantu sejumlah perusahaan China mengembangkan bisnis energi baru di Indonesia.
Provinsi Shanxi, tempat pameran digelar, merupakan provinsi penghasil energi utama di China yang tengah aktif mendorong transisi energi. Pada 2025, kapasitas terpasang energi baru dan energi bersih di Shanxi mencapai 90,48 juta kilowatt, naik 18,29 juta kilowatt secara tahunan.
Kapasitas itu menyumbang 55,1 persen dari total kapasitas terpasang pembangkit listrik di provinsi tersebut. Untuk pertama kalinya, angka itu melampaui pembangkit listrik tenaga batu bara.
"Kami berharap dapat memanfaatkan pameran ini untuk menemukan lebih banyak teknologi dan produk energi baru yang dapat diterapkan di Indonesia," kata Liu Chen Zhi, perwakilan dari sebuah perusahaan energi Indonesia.
Pameran tersebut menyediakan area ekshibisi khusus untuk energi baru dan sistem tenaga listrik baru. Area ini menampilkan teknologi, peralatan, produk, dan model bisnis terbaru di sektor energi baru, serta menarik banyak ekshibitor dari Indonesia untuk melakukan pertukaran dan konsultasi.
Indonesia kaya akan sumber daya energi terbarukan, termasuk tenaga surya, tenaga air, dan energi panas bumi. Sementara itu, China memiliki kemampuan industri yang kuat dalam manufaktur peralatan energi baru, pembangunan proyek, penyimpanan energi, dan pengoperasian digital.
Xu Zaishan, wakil ketua eksekutif Indonesia China Business Council (ICBC), mengatakan Indonesia berharap dapat memanfaatkan teknologi China yang telah matang untuk mengembangkan berbagai proyek terkait.
"Indonesia merupakan negara kepulauan dengan kebutuhan energi yang sangat besar, tetapi porsi energi baru dalam bauran energinya masih relatif rendah. Sementara itu, China telah mengembangkan teknologi yang relatif matang di sektor energi baru. Di sinilah kedua negara dapat menemukan peluang kerja sama," ujar Xu.
Sejumlah proyek energi baru yang melibatkan perusahaan China telah mulai beroperasi di Indonesia. Proyek PV terapung Cirata di Jawa Barat yang dibangun oleh PowerChina memiliki total kapasitas terpasang 192 megawatt dan merupakan salah satu proyek tenaga surya terapung unggulan di Indonesia dan Asia Tenggara.
Proyek tersebut berhasil terhubung ke jaringan listrik dengan kapasitas penuh pada 2023. Sejak saat itu, proyek ini memasok listrik bersih ke jaringan listrik Jawa-Madura-Bali, serta berkontribusi terhadap pelatihan keterampilan dan penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat setempat.
Pada 2024, proyek PV Karawang berkapasitas 100 megawatt di Indonesia yang dibangun oleh perusahaan China secara resmi diserahterimakan untuk dioperasikan. Proyek ini dapat menghasilkan lebih dari 150 juta kilowatt-jam listrik bersih per tahun, memenuhi kebutuhan listrik tahunan sekitar 112.000 rumah tangga, serta mengurangi emisi karbon dioksida sekitar 114.700 ton.
Pembangunannya juga menciptakan lebih dari 1.000 lapangan kerja bagi masyarakat setempat.
Kerja sama semakin meluas ke rantai pasokan industri energi baru. Pada Agustus 2025, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia Bahlil Lahadalia melakukan pembicaraan dengan perusahaan-perusahaan PV tenaga surya dalam kunjungannya ke China guna menjajaki perluasan kerja sama di bidang rantai industri dan ekosistem tenaga surya.
Pemerintah Indonesia mengatakan pihaknya berharap dapat mempercepat pengembangan sel surya, modul, penyimpanan energi, serta industri terkait melalui masuknya investasi dan teknologi.
Kerja sama industri juga berkembang dari pembangunan proyek menuju manufaktur. Menurut informasi yang dirilis Kantor Ekonomi dan Komersial Kedutaan Besar Republik Rakyat China di Republik Indonesia, industri-industri dengan investasi China, seperti baterai energi baru dan kendaraan listrik, berkembang pesat.
Perkembangan tersebut membantu Indonesia secara bertahap beralih dari eksportir bahan mentah menjadi basis global penting untuk pengolahan logam dan industri energi baru. Pada tingkat kebijakan, kerja sama energi baru antara China dan Indonesia juga terus mendapat dukungan.