KALIMANTAN TENGAH — Acara yang berlangsung hingga Jumat di JIEXPO Kemayoran ini menghadirkan 22 perusahaan peserta dari sektor energi terbarukan dan kelistrikan. Lebih dari sekadar pameran, forum tahunan ini untuk pertama kalinya menyatukan sembilan organisasi industri—dari Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Masyarakat Konservasi dan Efisiensi Energi Indonesia (MASKEEI), hingga asosiasi panas bumi, surya, dan biometana—dalam satu platform kolaborasi.
Dukungan pendanaan untuk transisi energi datang dari berbagai perusahaan besar. Pertamina, PLN, BPDP, GIZ, GGGI, Supreme Energy, Sembcorp, Star Energy Geothermal, Geo Dipa, hingga WIKA tercatat sebagai sponsor utama dalam gelaran tahun ini.
Ketua Umum METI, Norman Ginting, menegaskan penyatuan lintas asosiasi ini mencerminkan pendekatan menyeluruh (whole-of-sector) yang tidak lagi berfokus pada satu jenis energi. "Merangkul surya, angin, panas bumi, bangunan hijau, efisiensi energi, hingga manufaktur peralatan kelistrikan dalam negeri sebagai satu ekosistem yang saling melengkapi," ujarnya di Jakarta, Rabu (2/9).
Pemerintah menegaskan Indonesia telah bergeser dari fase perencanaan menuju realisasi proyek strategis di lapangan. Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyebut implementasi pengembangan EBTKE telah mencapai 17,3% pada semester ini dan terus didorong untuk memenuhi bauran 30% pada 2034.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot, menambahkan bahwa transisi energi adalah strategi fundamental untuk ketahanan nasional, bukan sekadar pemenuhan komitmen global. "Di tengah dinamika geopolitik dan ketidakpastian pasokan energi fosil, pengembangan EBTKE menjadi kunci kemandirian energi," imbuhnya.
Salah satu inovasi utama tahun ini adalah peluncuran Networking Hub, sebuah wadah yang dirancang khusus untuk mempertemukan pengembang proyek dengan investor dan lembaga pembiayaan. Inisiatif ini menjawab salah satu hambatan terbesar transisi energi di Indonesia: kesenjangan antara proyek yang layak secara teknis dengan ketersediaan pendanaan.
Dengan total 22 booth perusahaan, ajang ini juga menghadirkan sesi plenary dan breakout session yang membahas kebijakan terkini serta peluang pasar EBT di kawasan ASEAN. Sinergi ini diharapkan menciptakan kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, penyedia teknologi, dan akademisi untuk mempercepat agenda transisi energi nasional.