Tim UMPR Borong Tiga Prestasi di Kompetisi Internasional, Angkat Kearifan Ekologis Dayak Lewat Media AR

Penulis: Hendra Wijaya  •  Rabu, 02 September 2026 | 19:02:02 WIB
Tim PKM-RSH ECO-MISSION AR UMPR meraih tiga penghargaan di seminar internasional dan kompetisi nasional PTMA.

Tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMPR) yang mengembangkan media pembelajaran ECO-MISSION AR berhasil meraih tiga prestasi sekaligus di kancah nasional dan internasional. Inovasi yang memadukan teknologi Augmented Reality (AR) dengan kearifan ekologis masyarakat Dayak ini menyabet penghargaan Best Paper dan Best Poster dalam seminar di Universitas Palangka Raya.

PALANGKA RAYA — Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) ECO-MISSION AR Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMPR) membuktikan kemampuan mahasiswa daerah dalam mengemas riset berbasis potensi lokal. Mereka menyabet tiga penghargaan sekaligus, mulai dari ajang internasional di Palangka Raya hingga kompetisi tingkat nasional di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA).

Prestasi itu diumumkan setelah tim mengikuti Seminar Kreativitas Mahasiswa ke-3 yang digelar di Universitas Palangka Raya (UPR) pada Kamis (30/7/2026). Pada ajang yang mempertemukan peserta dari Indonesia dan Malaysia tersebut, dua mahasiswa UMPR, Rishella Dwitha Putri dan Heniewati, tampil sebagai presenter dan memenangkan kategori Best Paper Award serta Best Poster Award.

Kembali Raih Juara di Ajang Nasional PTMA

Momentum tersebut berlanjut dengan capaian di kompetisi Penilaian Kemajuan Pelaksanaan Program PKM (PKP2) PTMA 2026. Untuk bidang PKM-RSH, tim yang diketuai Rishella Dwitha Putri ini berhasil keluar sebagai juara kedua. Anggota tim lainnya adalah Alya Wulandari dan William Hans Permana, dengan dosen pendamping Mohamad Nor Aufa MPd.

“Kami ingin mengenalkan nilai-nilai ekologis masyarakat Dayak melalui media pembelajaran yang interaktif dan sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini,” ujar Ketua Tim ECO-MISSION AR, Rishella Dwitha Putri, di Palangka Raya, Rabu.

Media Pembelajaran IPA Berbasis Ekosistem Gambut

ECO-MISSION AR merupakan media pembelajaran imersif yang dirancang untuk mata pelajaran IPA kelas VII. Inovasi ini mengintegrasikan gamifikasi berbasis web, teknologi AR, dan kearifan ekologis Dayak untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual mengenai ekosistem gambut dan pelestarian lingkungan.

Pengembangan gagasan ini berangkat dari kebutuhan untuk menjembatani potensi lingkungan Kalimantan Tengah dengan teknologi pembelajaran modern. Melalui pendekatan tersebut, siswa diajak memahami konsep IPA sekaligus mengenali nilai-nilai pelestarian lingkungan yang sudah lama hidup di masyarakat Dayak.

Fokus pada Validitas dan Kebutuhan Pembelajaran

Dalam pelaksanaannya, penelitian ini melalui sejumlah tahapan krusial. Tim melakukan analisis kebutuhan terlebih dahulu sebelum menguji validitas media pembelajaran yang dikembangkan, memastikan produk tersebut layak digunakan dan sesuai dengan kebutuhan siswa di lapangan.

Perjalanan tim ini tidak singkat. Sebelum berlaga di seminar dan kompetisi, mereka lebih dulu dinyatakan lolos seleksi nasional dan memperoleh pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema PKM 2026 senilai Rp6,5 juta.

Dosen pendamping, Mohamad Nor Aufa, menilai bahwa deretan prestasi ini menunjukkan kapasitas mahasiswa dalam mengembangkan riset yang berpijak pada kekayaan lokal. “ECO-MISSION AR tidak hanya berorientasi pada pengembangan teknologi, tetapi juga bagaimana teknologi digunakan untuk mengangkat kearifan ekologis Dayak dan isu lingkungan lokal ke dalam pembelajaran IPA,” jelasnya.

Rangkaian prestasi ini menjadi katalis bagi tim untuk terus mengembangkan inovasi yang memadukan teknologi, kearifan lokal, dan keberlanjutan lingkungan. Keberhasilan ini juga membawa isu ekosistem gambut dan kearifan ekologis Dayak Kalimantan Tengah ke ruang akademik yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Reporter: Hendra Wijaya
Sumber: kalteng.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top