PALANGKA RAYA — Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Tengah mencatat inflasi year-on-year (y-on-y) sebesar 4,96 persen pada Agustus 2026. Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 107,72 pada Agustus 2025 menjadi 113,06. Pemantauan dilakukan di empat kabupaten/kota di provinsi ini.
Komoditas yang paling dominan menyumbang inflasi antara lain beras, emas perhiasan, bensin, daging ayam ras, ikan nila, dan minyak goreng. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar, mencapai 2,76 persen. Transportasi menyumbang 0,64 persen, disusul perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,58 persen.
Kenaikan harga juga dipengaruhi oleh bahan bakar rumah tangga, ikan patin, ikan gabus, cabai rawit, sigaret kretek mesin, angkutan udara, terong, dan pelumas/oli mesin. Daftar lengkap komoditas penyumbang inflasi mencakup ikan bakar, ketimun, solar, ikan kapar, sigaret kretek tangan, hingga ikan baung.
Kepala BPS Kalteng Toto Haryanto Silitonga menyebut, inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Kapuas sebesar 6,20 persen dengan IHK 114,56. "Sedangkan kabupaten/kota yang mengalami inflasi y-on-y terendah yaitu, Sampit sebesar 4,06 persen dengan IHK 111,86," ucapnya di Palangka Raya, Selasa.
Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menyumbang 0,31 persen. Penyediaan makanan dan minuman/restoran memberi andil 0,32 persen, pakaian dan alas kaki 0,09 persen, serta perlengkapan rumah tangga 0,10 persen.
Kelompok kesehatan menyumbang 0,04 persen, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,02 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya 0,02 persen, serta pendidikan 0,08 persen. Angka ini tercatat dalam pemantauan BPS di empat wilayah sampel.
Di sisi lain, beberapa komoditas menahan laju inflasi tahunan. Bawang merah, tomat, telur ayam ras, bawang putih, buah naga, dan sabun detergen bubuk mengalami penurunan harga. Udang basah dan kelapa juga tercatat deflasi, begitu pula komoditas sekolah menengah pertama.