PALANGKARAYA — Kabut asap yang melanda Brunei Darussalam akhir pekan lalu berasal dari ratusan titik panas yang terdeteksi di Pulau Kalimantan, khususnya di wilayah Indonesia bagian barat. ASMC mencatat 1.180 titik panas pada Sabtu (29/8) dan memuncak di angka 1.734 titik pada Jumat (28/8), setelah sebelumnya terpantau 514 titik pada Kamis (27/8).
Kementerian Brunei menyatakan angin barat daya yang bertiup menuju wilayahnya turut membawa kabut asap dari lokasi titik panas utama. Kondisi ini berkontribusi signifikan terhadap memburuknya kualitas udara di negara berpenduduk sekitar 450 ribu jiwa tersebut.
Mayoritas titik panas berada di bagian barat Pulau Kalimantan. Dua provinsi yang paling banyak terdeteksi adalah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, dua wilayah yang kerap menjadi langganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat musim kemarau.
Fenomena ini sejalan dengan pola tahunan di mana lahan gambut di kedua provinsi rawan terbakar ketika intensitas hujan menurun. Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya juga kerap mengeluarkan peringatan dini terkait potensi karhutla di wilayah tersebut.
Pergerakan asap lintas batas ini dijelaskan oleh pola angin musiman. Angin barat daya yang sedang bertiup mengarah langsung ke Brunei—negara yang terletak di pesisir utara Kalimantan—sehingga partikel asap dari titik panas di Kalbar dan Kalteng terbawa hingga melewati batas wilayah Indonesia.
Meski demikian, pemerintah Brunei memastikan dampaknya belum mengkhawatirkan. Nilai Pollutants Standards Index (PSI) yang tercatat di stasiun pemantauan kualitas udara di empat distrik Brunei masih berada pada kisaran baik hingga sedang.
Departemen Lingkungan Hidup, Taman, dan Rekreasi Brunei bersama Kementerian Kesehatan dan Departemen Meteorologi setempat merilis peringatan bersama pada Minggu (30/8). Masyarakat Brunei diminta membatasi aktivitas luar ruangan jika kondisi kabut memburuk, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Bagi warga Kalimantan Tengah dan Barat, kabut asap yang terbawa ke Brunei menjadi pengingat bahwa karhutla berdampak hingga lintas negara. Pemerintah daerah di kedua provinsi ini pun menghadapi tekanan semakin besar untuk mengendalikan titik panas sebelum musim kemarau mencapai puncaknya.