PALANGKA RAYA — Meski tidak ada potensi hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang, BMKG Kalimantan Tengah meminta masyarakat mewaspadai kondisi cuaca kering yang memicu kemudahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Peringatan ini tercantum dalam prospek cuaca mingguan untuk periode 29 Agustus hingga 4 September 2026 yang diperbarui pada Sabtu (29/8/2026).
Kondisi atmosfer yang minim awan hujan membuat wilayah Kalteng rentan terhadap munculnya titik api, terutama di area gambut dan lahan kering. BMKG menegaskan bahwa risiko karhutla menjadi perhatian utama dalam sepekan ke depan.
Selain ancaman karhutla, BMKG secara khusus mengingatkan masyarakat pesisir dan pengguna transportasi laut di perairan selatan Kalimantan Tengah. Tinggi gelombang diprakirakan berkisar antara 0,5 hingga 2 meter, atau masuk dalam kategori rendah hingga sedang.
Potensi gelombang dengan kisaran 1 hingga 2 meter menjadi perhatian ekstra bagi nelayan dan operator kapal barang yang melintasi jalur tersebut. Kondisi ini dapat memengaruhi aktivitas bongkar muat di pelabuhan-pelabuhan kecil serta mobilitas nelayan tradisional yang menggunakan kapal berukuran di bawah 10 GT.
Secara nasional, BMKG mencatat kondisi kering semakin meluas seiring puncak musim kemarau yang terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia pada Agustus 2026. Fenomena ini tidak hanya meningkatkan risiko kebakaran hutan, tetapi juga berpotensi memicu kekeringan di sejumlah daerah.
BMKG mengimbau masyarakat dan pihak terkait untuk terus memperbarui informasi cuaca dari kanal resmi karena kondisi atmosfer dapat berubah sewaktu-waktu. Pemantauan berkala terhadap titik panas dan kelembapan tanah menjadi langkah antisipasi yang disarankan untuk mencegah meluasnya karhutla.