Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah memaksimalkan operasi udara untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan yang masih menyisakan 15 titik api di sejumlah wilayah rawan. Gubernur Agustiar Sabran menegaskan armada water bombing harus dioptimalkan untuk menjangkau lokasi yang sulit ditembus jalur darat. Saat ini lima unit helikopter dikerahkan, tiga di antaranya masih aktif beroperasi.
PALANGKA RAYA — Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran memimpin langsung rapat koordinasi penanganan karhutla di Aula Jayang Tingang, Kantor Gubernur, Sabtu. Instruksinya tegas: seluruh kekuatan yang dimiliki harus dimaksimalkan, terutama armada udara untuk titik-titik yang tidak bisa dijangkau melalui darat.
"Kekuatan yang kita miliki harus dimaksimalkan. Untuk titik-titik yang sulit dijangkau melalui darat, operasi water bombing harus dioptimalkan agar pemadaman bisa dilakukan lebih cepat," tegas Agustiar.
Kepala Pelaksana BPBPK Kalimantan Tengah Ahmad Toyib melaporkan masih ada 15 titik kebakaran yang belum berhasil dipadamkan. Sebelas titik lainnya yang sebelumnya berstatus lokasi terparah kini sudah berhasil ditangani.
Dari lima unit helikopter water bombing yang disiapkan, tiga unit masih aktif beroperasi. Dua unit lainnya sedang dalam tahap perawatan dan menunggu suku cadang agar bisa kembali diterjunkan ke lapangan.
Data keseluruhan menunjukkan skala bencana yang dihadapi cukup besar. Tercatat 38.916 titik panas tersebar di Kalimantan Tengah, dengan luas lahan terbakar mencapai 60.028,77 hektare berdasarkan laporan daerah. Jumlah kejadian karhutla mencapai 2.090 kejadian.
Untuk operasi darat, pemerintah mengerahkan 7.208 personel gabungan dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, dan relawan. Jumlah ini ditargetkan bisa dioptimalkan hingga 10.700 personel.
Gubernur meminta operasi pemadaman difokuskan ke wilayah dengan tingkat kerawanan dan dampak paling tinggi. Enam daerah yang menjadi prioritas adalah Palangka Raya, Pulang Pisau, Kapuas, Kotawaringin Timur khususnya Sampit, Katingan, dan Seruyan.
"Kita harus melihat titik mana yang paling membutuhkan intervensi dari udara. Jangan sampai sumber daya yang ada tidak dimanfaatkan secara optimal. Semua harus diarahkan untuk mempercepat pemadaman," ujarnya.
Agustiar menekankan operasi udara tidak bisa berjalan sendiri. Setelah api ditekan dari udara, pasukan di lapangan harus segera memastikan titik tersebut benar-benar aman dan tidak muncul kembali.
"Water bombing bukan berdiri sendiri. Harus terintegrasi dengan tim di darat. Setelah api ditekan dari udara, pasukan di lapangan harus memastikan titik tersebut benar-benar aman dan tidak muncul kembali," jelasnya.
Selain pemadaman darat dan udara, pemerintah juga menjalankan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Tiga periode telah diselesaikan, sementara periode keempat berlangsung sejak 26 Agustus hingga 2 September 2026 untuk mendukung upaya pembasahan lahan gambut yang rawan terbakar.