Dreame Tutup Project Starry Sky, Hengkang dari Bisnis Mobil Listrik Hanya Setahun

Penulis: Hendra Wijaya  •  Sabtu, 29 Agustus 2026 | 14:54:31 WIB
Dreame resmi menutup Project Starry Sky dan menghentikan seluruh operasional bisnis mobil listriknya setelah berjalan sekitar satu tahun.

KALIMANTAN TENGAH — Kabar ini mengejutkan industri otomotif, terutama setelah Dreame sempat menjadi perbincangan besar di awal tahun. Perusahaan yang dikenal lewat produk robot vacuum cleaner ini mencoba peruntungan di sektor kendaraan listrik, namun langkah tersebut berakhir cepat. Laporan dari media otomotif Tiongkok menyebutkan operasional divisi otomotif Dreame kini hanya menyisakan beberapa puluh staf yang bertugas mengurus proses penutupan, masalah hukum, dan penyelesaian keuangan.

Klaim 0,9 Detik yang Berakhir Kontroversi

Saat diperkenalkan pada April lalu, Nebula NEXT 01 JET Edition langsung mencuri perhatian. Dreame mengklaim mobil ini mampu melesat dari 0 hingga 100 km/jam hanya dalam 0,9 detik, berkat dua pendorong roket berbahan bakar padat di bagian belakang. Angka tersebut sebenarnya sudah di luar nalar untuk mobil produksi, bahkan mengalahkan hypercar listrik sekelas Rimac Nevera yang membutuhkan waktu 1,74 detik.

Sejumlah laporan kemudian mempertanyakan kelayakan klaim tersebut. Tidak ada bukti pengujian independen yang pernah dirilis, dan perkembangan proyeknya pun dinilai tidak transparan. Kini, pertanyaan itu terjawab sudah—proyeknya dihentikan total.

Dampak ke Karyawan dan Rencana Masa Depan

Keputusan ini berdampak besar pada hampir 1.000 karyawan yang sebelumnya tergabung dalam Project Starry Sky. Mereka kini harus menghadapi ketidakpastian setelah divisi otomotif ditutup. Dreame sendiri belum merilis pernyataan resmi mengenai nasib para karyawan atau apakah mereka akan dialihkan ke lini bisnis lain perusahaan.

Bagi pengamat industri, langkah ini menunjukkan betapa sulitnya bagi pendatang baru untuk bersaing di pasar EV Tiongkok yang sudah sangat padat. Bukan hanya melawan pemain mapan seperti BYD dan NIO, tetapi juga startup lain yang sudah lebih dulu mengamankan pendanaan dan infrastruktur produksi.

Pelajaran untuk Industri EV dan Konsumen

Kasus Dreame menjadi pengingat penting bahwa klaim performa ekstrem di atas kertas tidak selalu sejalan dengan realitas produksi. Untuk konsumen Indonesia yang tertarik membeli mobil listrik, terutama dari merek-merek baru, ada baiknya menunggu bukti nyata berupa pengujian independen dan rekam jejak produksi massal yang sudah berjalan.

Kepercayaan konsumen tidak bisa dibangun hanya dari angka spektakuler dalam presentasi. Perlu ada komitmen jangka panjang, infrastruktur purna jual, dan tentu saja produk yang benar-benar bisa dikirim ke tangan pembeli. Tanpa itu, proyek semegah apapun hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah industri otomotif.

Penutupan Project Starry Sky juga berpotensi mempengaruhi kepercayaan investor terhadap startup EV lain yang masih dalam tahap pengembangan. Di tengah persaingan harga yang ketat dan margin tipis, hanya pemain dengan fundamental kuat yang bisa bertahan.

Reporter: Hendra Wijaya
Sumber: otomotif.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top