KALIMANTAN TENGAH — Kebijakan larangan impor yang dijatuhkan pemerintah AS kepada Polestar menimbulkan teka-teki besar. Anak perusahaan Volvo itu mengaku belum mendapatkan penjelasan resmi mengenai dasar hukum dan pertimbangan di balik keputusan tersebut, meski telah berulang kali meminta klarifikasi.
Peter Wexler, Head of Product, Retail Network and Government Affairs Polestar, menyatakan pihaknya kini fokus mendesak Departemen Perdagangan AS untuk memberikan informasi yang diminta. "In essence, we are currently focusing on getting the attention of (the Commerce Department) to obtain the requested information and to understand the underlying basis for the denial," ujarnya, seperti dikutip dari The Wall Street Journal.
Kebijakan ini menjadi sorotan karena Volvo dan Polestar berada di bawah naungan Geely Holding, grup otomotif asal China. Namun, keduanya diperlakukan berbeda oleh regulator AS.
Volvo, yang juga dimiliki Geely, masih bisa menjalankan operasi penjualan di pasar AS. Sementara Polestar, yang sahamnya mayoritas dipegang Geely, justru dilarang. Perbedaan perlakuan ini yang coba digali Polestar melalui jalur komunikasi dengan pemerintah.
Menariknya, Polestar tidak berencana mengajukan banding atas keputusan tersebut. Langkah yang diambil justru meminta penjelasan tertulis mengenai alasan pelarangan, yang menurut pengamat bisa menjadi dasar bagi langkah hukum berikutnya atau sekadar untuk memperbaiki posisi tawar di masa depan.
Keputusan ini jelas mengganggu rencana ekspansi Polestar di Amerika Utara. Padahal, pasar AS merupakan salah satu target utama penjualan untuk model-model listrik terbarunya, termasuk Polestar 3 dan Polestar 4 yang sempat dipersiapkan untuk pasar global.
Dealer-dealer Polestar di AS juga ikut terkena imbas. Mereka sudah melakukan investasi untuk membangun fasilitas penjualan dan servis, tapi kini harus menghadapi ketidakpastian pasokan kendaraan. Wexler sendiri mengakui situasi ini membingungkan banyak pihak, termasuk jaringan dealer yang tidak mendapat jawaban jelas dari pabrikan maupun pemerintah.
Larangan terhadap Polestar terjadi di tengah meningkatnya tensi dagang antara Washington dan Beijing. Pemerintah AS dalam beberapa tahun terakhir memang memperketat aturan untuk kendaraan yang memiliki keterkaitan dengan teknologi dan modal China, terutama yang menyangkut keamanan data dan rantai pasok.
Namun, alasan spesifik yang memberatkan Polestar—sementara Volvo lolos—belum dipublikasikan. Beberapa analis menduga struktur kepemilikan Polestar yang lebih erat dengan Geely menjadi faktor pembeda. Volvo, meski dimiliki Geely, memiliki struktur operasional yang lebih independen dan basis produksi yang lebih tersebar di Eropa.
Hingga berita ini diturunkan, Departemen Perdagangan AS belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan klarifikasi Polestar. Sementara itu, Polestar memastikan operasional di negara lain, termasuk Eropa dan Asia, tetap berjalan normal.