Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, Halikinnor mengapresiasi peluncuran buku Aku Cinta Budaya Dayak sebagai sarana mengenalkan adat, bahasa, dan kearifan lokal kepada anak usia dini. Buku yang disusun dalam tiga bahasa ini diharapkan menjawab kekhawatiran semakin banyaknya generasi muda yang tidak mengenal budaya dan bahasa daerahnya sendiri.
SAMPIT — Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, Halikinnor menyoroti fenomena memudarnya pengenalan budaya Dayak di kalangan anak-anak. Menurutnya, perkembangan zaman dan derasnya arus digitalisasi membuat banyak anak tidak lagi familiar dengan bahasa ibu, termasuk di lingkungan keluarganya sendiri.
“Anak-anak kita saat ini banyak yang tidak mengenal budaya Dayak. Bahkan dengan perkembangan zaman dan digitalisasi, bahasa daerah sebagai bahasa ibu juga semakin banyak yang tidak diketahui,” kata Halikinnor di Sampit, Kamis.
Halikinnor memberi contoh nyata dari lingkungan terdekatnya. Ia menyebut banyak anak yang lahir dari orang tua bersuku Dayak justru tumbuh tanpa kemampuan berbahasa Dayak karena terbiasa menggunakan bahasa Banjar dalam keseharian.
“Dengan adanya buku ini minimal generasi muda kita tahu bagaimana baju orang Dayak perempuan atau laki-laki, memakai sumping dan lawan, begitu juga adat istiadatnya. Apa itu Singer, apa itu Jipen,” ujarnya.
Kondisi ini, lanjutnya, menegaskan pentingnya pengenalan budaya dilakukan sejak dini melalui media yang menarik dan mudah dipahami anak. Buku Aku Cinta Budaya Dayak dinilai menjadi salah satu jembatan untuk memperkenalkan warisan leluhur secara sederhana kepada generasi penerus.
Keunggulan utama buku ini terletak pada penyajiannya yang interaktif. Selain memuat materi dalam bahasa Indonesia, bahasa Dayak, dan bahasa Inggris, setiap halaman dilengkapi QR Code yang dapat diakses untuk memutar video, gerak, dan suara.
Materi yang disajikan juga dibuat dekat dengan kehidupan sehari-hari anak. Dengan begitu, proses belajar budaya tidak berlangsung kaku, melainkan menyenangkan dan sekaligus mengenalkan bahasa asing sejak dini.
Halikinnor berharap buku tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan bacaan dan sumber pembelajaran bagi anak usia dini maupun para pendidik di Kotim. “Pengenalan budaya sejak dini juga dapat membentuk karakter anak melalui nilai gotong royong, toleransi, saling menghargai dan menghormati keberagaman,” pungkasnya.
Buku ini merupakan hasil kolaborasi Bunda PAUD Kotim, Khairiah Halikinnor, dan Ketua Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) Kotim, Ros Ermawati. Khairiah mengungkapkan, gagasan penyusunan buku berawal dari peninjauan ke sejumlah taman kanak-kanak (TK) yang menunjukkan anak-anak belum mengenal budaya Dayak.
“Awalnya kami beberapa kali meninjau sekolah, khususnya TK-TK, dan melihat mereka belum begitu mengenal budaya Dayak. Dari situ kami berinisiatif menciptakan buku ‘Aku Cinta Budaya Dayak’,” beber Khairiah.
Materi dalam buku mencakup berbagai aspek penting, mulai dari salam khas Dayak, pakaian daerah, makanan khas, hingga unsur adat dan budaya lainnya. Buku ini nantinya akan menjadi referensi pembelajaran bagi anak-anak TK di seluruh Kabupaten Kotim dan dibagikan agar pengenalannya lebih luas.
Ros Ermawati menambahkan, penyusunan buku ini merupakan upaya memanfaatkan teknologi untuk memperkuat pelestarian budaya di tengah perubahan zaman. Digitalisasi, menurutnya, bukan ancaman, melainkan sarana agar budaya lokal tetap hidup dan terdokumentasi.
“Budaya kita nanti akan tersimpan dengan sangat baik, lebih hidup, dan bisa tersebar sehingga orang-orang mengenal. Utamanya adalah anak-anak mencintai budaya kita, budaya Dayak,” katanya.
Proses penyusunan hingga pencetakan buku memakan waktu sekitar sembilan bulan, mulai dari menentukan ide pokok hingga menyesuaikan materi dengan karakter anak usia dini. Dinas Pendidikan Kotim turut memfasilitasi proses tersebut.
Kepala Bidang PAUD dan Pendidikan Non Formal (PNF) Disdik Kotim, Legendaria Okta Bellary Nusaku, menyebut peluncuran buku ini menjadi bagian penting dalam rangkaian Gebyar PAUD memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.