KALIMANTAN TENGAH — OpenAI mulai menguji coba mode Ultrafast pada model GPT 5.6 Sol, sebuah opsi yang dirancang untuk memangkas waktu tunggu respons secara drastis. Klaimnya, mode ini mampu menghasilkan hingga 750 output token per detik—unit teks yang dihasilkan model saat merespons pengguna—atau setara 14 kali lipat kecepatan pemrosesan standar. Langkah ini menjadi upaya OpenAI menarik pelanggan korporat yang selama ini mengeluhkan latensi ChatGPT.
“Sampai sekarang, kecepatan waktu nyata biasanya berarti harus memilih model yang lebih kecil atau lebih terspesialisasi,” tulis OpenAI dalam pengumuman resminya, Kamis (pekan ini). “Ultrafast menunjukkan arah baru: lebih banyak pekerjaan berguna per detik.”
Alih-alih sekadar mempercepat respons, OpenAI menekankan bahwa Ultrafast mengubah kompromi lama antara kecepatan dan kapabilitas model. Sebelumnya, pengguna harus memilih antara model besar yang lambat atau model kecil yang cepat. Dengan mode baru ini, GPT 5.6 Sol tetap mempertahankan kapabilitas penuh namun dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi.
OpenAI menyebut sejumlah skenario kerja korporat yang paling diuntungkan, di antaranya:
OpenAI bukan pemain pertama yang meluncurkan mode akselerasi. Anthropic, pengembang Claude, juga punya fast mode pada modelnya. Namun, kecepatan yang ditawarkan OpenAI kali ini berada di level yang berbeda—jauh melampaui apa yang dipasarkan kompetitor sejauh ini.
Performa tinggi Ultrafast tidak lepas dari kerja sama OpenAI dengan Cerebras, perusahaan pembuat chip asal Amerika Serikat. Arsitektur chip Cerebras memungkinkan pemrosesan token dalam jumlah besar secara paralel, yang menjadi fondasi teknis di balik klaim 14x ini.
Saat ini Ultrafast baru tersedia dalam bentuk preview untuk sekelompok kecil pelanggan korporat. OpenAI menyatakan akses akan diperluas seiring bertambahnya kapasitas infrastruktur. Belum ada informasi mengenai kapan fitur ini akan menjangkau pengguna individu atau pasar Indonesia.
Bagi perusahaan yang mengandalkan ChatGPT untuk operasional harian, mode ini jelas menarik. Namun, perlu dicatat bahwa ketersediaan yang masih terbatas berarti adopsi massal kemungkinan baru terjadi beberapa bulan ke depan. Untuk pengguna umum yang ingin mencoba, opsi paling realistis adalah menunggu OpenAI membuka akses publik.