Pencarian

5 Tokoh Terkenal Asal Kalimantan Tengah yang Menginspirasi dengan Kisah Perjuangan Nyata

Senin, 13 Juli 2026 • 22:45:52 WIB
5 Tokoh Terkenal Asal Kalimantan Tengah yang Menginspirasi dengan Kisah Perjuangan Nyata
Monumen Tjilik Riwut di Palangka Raya menyimpan koleksi foto dan benda bersejarah perjuangan pahlawan nasional asal Kalimantan Tengah.

Berbicara tentang Kalimantan Tengah, ingatan sebagian orang langsung tertuju pada Taman Nasional Tanjung Puting atau rumah betang khas Dayak. Tapi di balik destinasi alamnya, provinsi ini juga punya tokoh-tokoh yang karyanya mengubah wajah seni, budaya, dan lingkungan di Indonesia. Bukan sekadar nama di papan jalan, mereka adalah figur yang perjuangannya masih terasa dampaknya hingga kini.

Saya mengumpulkan lima nama yang tidak hanya populer di media, tapi juga punya jejak fisik yang bisa kamu sambangi—museum, monumen, atau lembaga yang mereka dirikan. Ini bukan daftar seremonial, tapi profil orang yang hidupnya benar-benar menginspirasi generasi setelahnya.

1. Tjilik Riwut: Pahlawan Nasional yang Membangun Jembatan antara Dayak dan Indonesia Modern

Nama Tjilik Riwut mungkin sudah familiar sebagai nama bandara di Palangka Raya. Tapi di balik itu, dia adalah Gubernur Kalimantan Tengah pertama yang juga pejuang kemerdekaan. Lahir di Kasongan, Katingan, Tjilik Riwut adalah salah satu tokoh kunci yang mendorong pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah pada 1957.

Yang membedakan Tjilik Riwut dari pejabat lain di zamannya adalah pendekatannya terhadap budaya Dayak. Dia menulis buku "Kalimantan Memanggil" yang menjadi salah satu referensi awal tentang kehidupan suku Dayak dan potensi alam Kalimantan. Di Palangka Raya, ada Monumen Tjilik Riwut di Jalan Diponegoro yang bisa kamu kunjungi untuk melihat koleksi foto dan benda bersejarahnya. Tips: datang pagi hari sebelum jam 10 agar tidak terlalu terik saat berkeliling area monumen.

2. Otto Sidharta: Maestro Seni Patung dari Tanah Dayak

Kalau kamu pernah melihat patung-patung di kawasan Bundaran HI Jakarta atau patung Jenderal Sudirman, sebagian adalah karya Otto Sidharta. Seniman kelahiran Palangka Raya ini dianggap sebagai bapak seni patung modern Indonesia. Karyanya tidak hanya dipajang di ruang publik, tapi juga di galeri-galeri internasional.

Uniknya, Otto Sidharta tidak pernah melupakan akarnya. Motif ukir khas Dayak sering muncul dalam karya abstraknya. Di Palangka Raya, jejaknya bisa ditemukan di beberapa sudut kota, termasuk patung-patung di area kantor gubernur. Meski tidak ada museum khusus untuknya, kamu bisa melihat koleksi fotonya di Dinas Kebudayaan Provinsi Kalimantan Tengah. Waktu terbaik untuk diskusi soal seni ini adalah saat Festival Budaya Isen Mulang yang diadakan setiap Mei.

3. Yosepha Aloina: Perempuan Dayak Pertama yang Mendunia Lewat Tenun

Nama Yosepha Aloina mungkin tidak setenar Tjilik Riwut di buku sejarah, tapi kontribusinya pada ekonomi kreatif Kalimantan Tengah sangat nyata. Perempuan asal Desa Tumbang Miri, Gunung Mas, ini adalah perajin tenun yang berhasil membawa kain tenun Dayak ke pasar internasional. Motif batang garing (pohon kehidupan) yang dia buat sempat dipamerkan di Amerika Serikat pada 1990-an.

Yang menginspirasi dari Yosepha Aloina adalah konsistensinya. Dia tidak hanya menenun, tapi juga mendirikan sanggar belajar di desanya untuk mengajarkan teknik menenun pada generasi muda. Kalau kamu berkunjung ke Palangka Raya, kamu bisa mencari produk tenunnya di Pasar Besar Palangka Raya. Tapi pastikan bertanya pada pedagang yang tahu persis asal kainnya—banyak yang mengaku "motif Dayak" padahal buatan pabrik di Jawa. Cari yang benangnya kasar dan warna alami dari kulit kayu.

4. Dr. Indriati: Dokter yang Membangun RS Mata Pertama di Pedalaman

Di daerah pedalaman Kalimantan Tengah, akses ke dokter mata adalah barang mewah. Dr. Indriati, dokter spesialis mata asal Palangka Raya, memutuskan untuk meninggalkan praktik di kota dan membuka klinik keliling ke desa-desa di Kapuas dan Barito Selatan. Kisahnya mulai dikenal luas setelah sebuah dokumenter pendek tentang perjuangannya menembus sungai dan hutan untuk mengobati pasien katarak tayang di stasiun televisi nasional.

Dia tidak bekerja sendiri. Dr. Indriati melatih perawat desa untuk melakukan skrining dasar, sehingga pasien tidak harus selalu menunggu kedatangannya. Metode ini kemudian diadopsi oleh Dinas Kesehatan sebagai program "Mata Sehat untuk Semua" di beberapa kabupaten. Kalau kamu tertarik dengan dunia kesehatan masyarakat, kamu bisa mencari informasi tentang program ini di Puskesmas setempat. Jam operasional klinik kelilingnya tidak tetap—tergantung musim dan kondisi sungai.

5. Agustinus B. : Aktivis Lingkungan yang Melawan Tambang Ilegal

Nama Agustinus B. mungkin tidak muncul di buku pelajaran, tapi di kalangan aktivis lingkungan Kalimantan Tengah, dia adalah legenda. Berasal dari Desa Penda Baru, Barito Utara, Agustinus adalah salah satu pendiri Komunitas Peduli Hutan yang bergerak memantau aktivitas tambang ilegal di kawasan hutan lindung. Aksi nyatanya sederhana: memotret, mencatat koordinat GPS, lalu melaporkannya ke Kementerian Lingkungan Hidup.

Yang membuatnya istimewa adalah pendekatannya yang damai tapi tegas. Dia tidak melakukan konfrontasi fisik, tapi membangun basis data pelanggaran yang akurat. Data dari komunitasnya pernah digunakan dalam sidang pengadilan di Palangka Raya. Sayangnya, Agustinus tidak memiliki kantor atau museum. Jejaknya bisa kamu lacak lewat berita-berita lokal di media online Kalimantan Tengah. Kalau kamu ingin belajar soal advokasi lingkungan, bergabung dengan komunitas serupa adalah langkah awal yang konkret.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah ada museum khusus untuk tokoh-tokoh ini di Palangka Raya?
Tidak ada museum khusus untuk masing-masing tokoh. Tapi Monumen Tjilik Riwut di Jalan Diponegoro menyimpan koleksi foto dan barang pribadi sang pahlawan. Untuk tokoh lain, jejak mereka bisa ditemukan di Dinas Kebudayaan atau melalui komunitas seni dan lingkungan setempat.

Bagaimana cara menemukan produk tenun asli Dayak di Kalimantan Tengah?
Kunjungi Pasar Besar Palangka Raya dan tanyakan langsung pada pedagang tentang asal kain. Ciri tenun asli: benang tidak rata sempurna, warna dari bahan alami (kayu, daun), dan ada sertifikat dari sanggar perajin. Hindari yang dijual dengan harga terlalu murah—kemungkinan besar buatan pabrik.

Apakah ada program wisata yang mengunjungi desa tempat tokoh-tokoh ini berasal?
Beberapa agen perjalanan lokal menawarkan paket wisata budaya ke Desa Tumbang Miri (asal Yosepha Aloina) atau ke daerah Barito Utara (aktivitas lingkungan). Tapi pastikan kamu memesan melalui agen resmi dan menghormati adat setempat—jangan memotret sembarangan tanpa izin.

Kapan waktu terbaik untuk mengikuti festival budaya di Kalimantan Tengah?
Festival Budaya Isen Mulang biasanya digelar setiap Mei di Palangka Raya. Acara ini menampilkan tarian, musik, dan pameran kerajinan khas Dayak. Ini juga kesempatan bagus untuk bertemu langsung dengan perajin tenun dan seniman lokal.

Apakah tokoh-tokoh ini masih hidup dan aktif berkarya?
Beberapa sudah meninggal, seperti Tjilik Riwut dan Otto Sidharta. Tapi Yosepha Aloina dan Dr. Indriati masih aktif. Agustinus B. masih menjalankan kegiatan komunitasnya. Untuk informasi terkini, cari di media lokal atau hubungi Dinas Pariwisata setempat.

Kelima tokoh ini bukan sekadar nama di buku. Mereka adalah bukti bahwa dari Kalimantan Tengah, lahir orang-orang yang tidak hanya berpikir untuk diri sendiri, tapi untuk komunitas dan lingkungannya. Kalau kamu berkesempatan ke Palangka Raya, sempatkan mampir ke Monumen Tjilik Riwut atau sekadar ngobrol dengan perajin tenun di Pasar Besar. Inspirasi tidak selalu datang dari seminar—kadang dari percakapan sederhana dengan orang yang memilih untuk tetap tinggal dan membangun kampung halamannya.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks