Pencarian

7 Toko Buku dan Perpustakaan Asyik di Kalimantan Tengah yang Wajib Dikunjungi Pencinta Literasi

Sabtu, 04 Juli 2026 • 12:44:01 WIB
7 Toko Buku dan Perpustakaan Asyik di Kalimantan Tengah yang Wajib Dikunjungi Pencinta Literasi
Perpustakaan Daerah Kalimantan Tengah menyediakan ruang baca dengan koleksi lengkap dan pemandangan taman di Palangka Raya.

Palangka Raya, kota bundaran besar dan lalu lintas motor yang dominan, menyimpan denyut literasi yang tak banyak dibicarakan. Bukan hanya soal buku teks pelajaran, tapi juga ruang publik yang hidup dengan diskusi, kopi, dan cerita lokal. Selama beberapa pekan terakhir, saya menyusuri beberapa titik yang jadi favorit warga lokal dan perantau yang butuh tempat nongkrong sambil membaca.

Berikut tujuh tempat yang sudah saya kunjungi langsung dan layak masuk daftar kunjungan Anda.

1. Perpustakaan Daerah Kalimantan Tengah

Berlokasi di Jalan Seth Adji, dekat pusat kota, perpustakaan ini jadi andalan utama. Koleksinya cukup lengkap, mulai dari buku sejarah lokal, ensiklopedia, hingga novel terbaru. Area baca di lantai dua punya jendela besar yang menghadap ke taman—cahaya alami masuk deras, cocok untuk membaca sore hari.

Jam buka resmi Senin-Jumat pukul 08.00-16.00 WIB. Keanggotaan gratis, cukup bawa KTP. Tempat parkir motor dan mobil terbatas, jadi datang pagi lebih baik. Saya sempat ngobrol dengan petugas sirkulasi, Ibu Rina, yang bilang pengunjung ramai setiap akhir pekan—terutama anak muda yang mengerjakan tugas kuliah.

2. Toko Buku Togamas Palangka Raya

Satu-satunya jaringan toko buku nasional yang punya cabang di sini. Letaknya di Jalan Yos Sudarso, dalam kompleks pertokoan. Stok buku pelajaran dan fiksi cukup banyak, tapi yang menarik adalah rak buku lokal—ada beberapa judul tentang budaya Dayak dan sejarah sungai Kahayan yang susah ditemukan di toko lain.

Harga buku di sini standar, diskon kadang 10-20% untuk judul tertentu. Tersedia area bermain anak kecil, jadi orang tua bisa tenang memilih. Saya lihat beberapa pengunjung memanfaatkan pojok baca gratis di dalam toko tanpa harus membeli—kebijakan yang jarang ada di toko buku besar.

3. Rumah Baca dan Diskusi "Batang Garing"

Ini bukan toko buku biasa. Tempatnya di Jalan Tjilik Riwut km 2,5, persis di samping kafe. Konsepnya komunitas—ada rak buku sumbangan yang bisa dibaca gratis, dan setiap Sabtu sore diadakan diskusi tematik. Topiknya beragam: dari sastra, lingkungan, sampai isu sosial Kalimantan.

Tidak ada tarif masuk. Pengunjung cukup membeli minuman di kafe sebelah yang harganya mulai Rp10.000. Saya datang ke diskusi tentang "Mitologi Dayak dalam Sastra Modern" pekan lalu—pesertanya sekitar 15 orang, campuran mahasiswa dan pegawai kantoran. Suasananya santai, tidak kaku seperti seminar formal.

4. Pojok Baca di Taman Kota Palangka Raya

Taman kota di Bundaran Besar punya pojok baca kecil yang dikelola Dinas Perpustakaan. Rak buku outdoor dengan atap seng—koleksinya terbatas, sekitar 50 judul, mayoritas buku anak dan majalah. Tapi tempatnya teduh, banyak pohon trembesi, dan anginnya sejuk.

Buka setiap hari dari pukul 07.00-17.00 WIB. Penerangan lampu taman kurang terang, jadi hindari datang malam hari. Saya sering lihat ibu-ibu membawa anak-anak mereka sambil duduk di tikar yang disediakan. Cocok untuk singgah sebentar sambil menunggu waktu maghrib.

5. Perpustakaan Universitas Palangka Raya (UPR)

Terletak di kampus UPR, Jalan Yos Sudarso, perpustakaan ini buka untuk umum dengan syarat mendaftar sebagai pengunjung. Koleksi jurnal dan skripsi sangat lengkap—sumber daya yang sulit didapat di perpustakaan daerah. Saya memanfaatkannya untuk mencari data tentang flora gambut Kalimantan Tengah.

Jam buka Senin-Jumat pukul 08.00-20.00 WIB, Sabtu sampai pukul 15.00. Wifi gratis dengan kecepatan lumayan. Parkir motor Rp2.000, mobil Rp5.000. Mahasiswa UPR punya prioritas akses, tapi pengunjung umum tetap dilayani selama tidak mengganggu.

6. Lapak Buku Bekas di Pasar Kahayan

Di lantai dasar Pasar Kahayan, ada deretan lapak buku bekas yang buka setiap hari. Koleksinya acak—dari novel lawas, komik, sampai buku agama dan teknik. Harganya murah, mulai Rp5.000-Rp20.000. Saya menemukan novel karya NH Dini edisi 1980-an dengan sampul lusuh tapi halaman masih utuh, hanya Rp10.000.

Penjualnya, Pak Herman (60 tahun), sudah berjualan sejak 1998. Dia bilang buku paling laris adalah novel terjemahan dan buku motivasi. Tips dari saya: datang pagi hari antara pukul 07.00-09.00 WIB karena stok masih lengkap. Bawa uang tunai, karena tidak semua lapak punya QRIS.

7. Kafe Buku "Arus Sungai"

Kafe kecil di Jalan Rajawali yang menyulap salah satu sudutnya menjadi perpustakaan mini. Koleksi bukunya sekitar 100 judul, didominasi novel dan buku travelling. Pengunjung bisa membaca sambil minum kopi susu gula aren seharga Rp18.000. Tempatnya hanya muat 6 meja, jadi suasana tenang dan privat.

Buka pukul 10.00-22.00 WIB, tutup hari Senin. Saya suka duduk di kursi dekat jendela karena ada colokan listrik. Pemiliknya, Mas Doni, mantan wartawan yang pindah ke Palangka Raya—dia sering merekomendasikan buku berdasarkan mood pengunjung. No minimum purchase untuk membaca, tapi etisnya pesan minuman.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah perpustakaan daerah Kalimantan Tengah buka di akhir pekan?
Ya, buka Sabtu pukul 08.00-14.00 WIB, tapi tutup hari Minggu dan hari libur nasional.

Di mana bisa menemukan buku tentang budaya Dayak?
Rak buku lokal di Togamas Palangka Raya dan Perpustakaan Daerah punya koleksi yang cukup. Untuk edisi langka, coba lapak buku bekas di Pasar Kahayan.

Apakah ada tempat baca yang buka 24 jam di Palangka Raya?
Sampai saat ini belum ada. Kafe buku "Arus Sungai" buka paling malam, sampai pukul 22.00 WIB.

Berapa biaya masuk perpustakaan UPR untuk umum?
Gratis, cukup isi buku tamu dan tinggalkan KTP sebagai jaminan. Tidak ada biaya parkir untuk motor.

Apakah toko buku di Palangka Raya menerima pembayaran non-tunai?
Togamas menerima QRIS dan kartu debit. Lapak buku bekas di pasar mayoritas tunai. Kafe buku "Arus Sungai" menerima QRIS dan GoPay.

Dari tujuh tempat ini, pilihan terbaik tergantung kebutuhan. Butuh data akademik? Perpustakaan UPR jawabannya. Ingin suasana santai sambil ngopi? Kafe "Arus Sungai" tempatnya. Yang pasti, literasi di Kalimantan Tengah tidak mati—ia hidup di sudut-sudut yang mungkin selama ini terlewat.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks