SAMPIT — Kepala Perum Bulog Kacab Kotim Wahyu Tri Hutomo menyatakan pihaknya masih terus melakukan penyerapan GKP dan beras dari petani di tiga kabupaten wilayah kerjanya. Tiga kabupaten itu meliputi Kotim, Katingan, dan Seruyan.
“Kami sudah menyerap sekitar 58 persen dari target 16.554 ton GKP yang diberikan Kantor Wilayah Kalimantan Tengah,” kata Wahyu di Sampit, Senin.
Penyumbang Serapan Terbesar dan Jadwal Panen Kedua
Daerah penyumbang serapan terbesar untuk wilayah kerja Bulog Cabang Sampit berasal dari Kotim. Dua kecamatan di Kotim yang paling berkontribusi adalah Kecamatan Teluk Sampit dan Mentaya Hilir Selatan. Kabupaten Katingan, khususnya Kelurahan Pegatan, juga menjadi pemasok utama.
Wahyu menjelaskan capaian 58 persen itu baru berasal dari hasil penyerapan pada musim tanam pertama. Masih ada dua musim tanam lagi tahun ini yang bisa dimanfaatkan untuk mengejar sisa target.
“Jadi kami targetkan sisa dari 42 persen itu bisa masuk di semester kedua tahun ini. Berarti sekitar 7.000 ton atau 8.000 ton kita masih siap untuk menyerap gabah kering panen,” ujarnya.
Sekitar pertengahan Juli, sejumlah daerah diperkirakan mulai memasuki masa panen kedua. Wilayah Lempuyang dan Pegatan yang sebelumnya telah dipantau langsung oleh pihak Bulog menjadi prioritas penyerapan.
Harga Pembelian Pemerintah dan Antisipasi Musim Kemarau
Harga pembelian pemerintah (HPP) untuk GKP masih tetap sebesar Rp6.500 per kilogram di tingkat petani. Angka ini menjadi acuan bagi Bulog dalam menyerap gabah dari petani di tiga kabupaten tersebut.
Wahyu mengakui musim kemarau berpotensi mempengaruhi produksi padi petani. Namun, ia optimistis hasil panen pada musim tanam berikutnya tetap berjalan baik karena didukung teknologi pertanian dan bantuan sarana pengairan.
“Insyaallah, kami optimis bisa tercapai. Sekarang kan banyak teknologi seperti pompanisasi, bantuan juga banyak dari dinas untuk pompanisasi kalau memang kurang air,” ucapnya.
Penyerapan Berlanjut Meski Target Tercapai
Wahyu menambahkan, meski target serapan nantinya telah mencapai 100 persen, Bulog tetap akan melakukan penyerapan hasil panen petani. Hal itu bisa dilakukan selama masih ada penugasan dari pemerintah pusat dan dukungan anggaran tersedia.
Untuk menjaga kualitas stok, gabah yang diserap Bulog terlebih dahulu diproses melalui mitra penggilingan. “GKP itu kami simpan di gudang sudah dalam bentuk beras, jadi kami bekerja sama dengan mitra penggilingan untuk digiling, nanti disetorkan ke Bulog dalam bentuk beras,” demikian Wahyu.