PALANGKA RAYA — Pelajar di Kalimantan Tengah tidak hanya akan menjadi penonton di tengah persaingan global. Pemerintah provinsi memulai program fasilitasi studi ke luar negeri, dan tahap awal berupa pemetaan minat serta pelatihan bahasa sudah berjalan.
Negara Tujuan: Dari AS hingga Jepang, Ada yang Tak Butuh TOEFL
Berdasarkan pemetaan yang dilakukan Dinas Pendidikan Kalteng, minat pelajar tersebar ke sejumlah negara. Amerika Serikat, Rusia, Jerman, Prancis, dan Jepang masuk dalam daftar tujuan utama.
“Ada negara yang tidak membutuhkan TOEFL, ada juga kampus di Rusia yang tidak membutuhkan tes Bahasa Inggris seperti itu,” kata Kepala Disdik Kalteng Reza Prabowo di Palangka Raya, Kamis.
Fakta ini menjadi catatan penting. Tidak semua universitas di luar negeri mensyaratkan skor TOEFL atau IELTS. Beberapa memiliki mekanisme seleksi tersendiri yang justru bisa menjadi peluang bagi pelajar dengan kemampuan bahasa asing non-Inggris.
Fasilitasi yang Diberikan: Bukan Sekadar Info Beasiswa
Dinas Pendidikan tidak hanya memberikan daftar beasiswa. Mereka membantu pelajar mengakses informasi hingga jalur yang tersedia untuk bisa menempuh pendidikan di luar negeri.
Pemetaan dilakukan terhadap pelajar lintas tingkat. Mulai dari lulusan kelas XII hingga siswa kelas X dan XI yang diproyeksikan memiliki peluang.
Saat ini, tahap persiapan difokuskan pada pelatihan dan tes kemampuan bahasa asing, seperti TOEFL maupun IELTS, sesuai kebutuhan masing-masing negara tujuan.
Digitalisasi Sekolah Jadi Penopang
Untuk mendukung program ini, Dinas Pendidikan Kalteng terus memperkuat digitalisasi di sekolah. Perangkat digital dan modul pembelajaran berbasis teknologi dikembangkan, dengan target pengembangan berlanjut pada tahun 2026.
“Seluruh langkah ini merupakan bagian dari upaya mewujudkan visi Gubernur Kalteng Agustiar Sabran dalam menciptakan generasi unggul dan berdaya saing global. Anak-anak Kalteng tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah perkembangan dunia,” ujar Reza Prabowo.
Program ini masih di tahap awal. Namun, langkah pemetaan dan persiapan yang sudah dimulai menunjukkan bahwa pemerintah provinsi tidak ingin generasi mudanya tertinggal dalam persaingan pendidikan global.