SAMPIT — Proses pemadaman karhutla di wilayah Desa Tanah Haluan, Kecamatan Bukit Santuai, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), resmi ditangani bersama oleh tim perusahaan dan satgas karhutla kecamatan sejak Senin malam. Namun, hasil pemantauan lanjutan menunjukkan masih ada titik asap yang perlu diwaspadai.
Camat Bukit Santuai, Agus Saptono, meneruskan laporan dari pihak PT AWL bahwa meskipun api sudah tidak terlihat, kepulan asap tipis masih terpantau dari lahan milik masyarakat yang terbakar. Kondisi ini menjadi perhatian utama untuk mencegah potensi munculnya kembali titik api di tengah musim kemarau.
Berdasarkan laporan yang diterima Camat Agus Saptono, pemantauan menggunakan pesawat nirawak atau drone dilakukan untuk mengaudit kondisi kawasan pasca-kebakaran. Hasilnya, sumber asap dipastikan berasal dari lahan masyarakat, bukan dari areal konsesi perusahaan.
Lokasi lahan yang terbakar berada di Desa Tanah Haluan, dengan jarak sekitar 100 meter dari batas kawasan operasi PT AWL. Meski demikian, pihak perusahaan telah melakukan steking area atau pembersihan lahan sebagai langkah pengamanan batas kawasan agar api tidak merambat masuk ke area konsesi.
Dari hasil pemantauan udara, tim gabungan menemukan setidaknya tiga titik kebakaran di sekitar lokasi kejadian. Total luasan lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 2,5 hektare dengan mayoritas merupakan lahan gambut yang rawan api susulan.
Proses pemadaman awal dilakukan oleh tim Keminting Estate sejak pukul 18.00 WIB hingga 22.00 WIB pada Senin malam. Agus yang juga turun langsung ke lokasi memastikan bahwa api utama telah berhasil dipadamkan, namun keberadaan asap sisa menunjukkan masih ada bagian lahan yang perlu dipantau ketat.
Lokasi karhutla yang berada di wilayah Desa Tumbang Penyahuan dan Tanah Haluan terbilang cukup jauh dari pusat ibu kota Kecamatan Bukit Santuai. Perjalanan menuju titik kebakaran membutuhkan waktu tempuh sekitar satu jam, menyulitkan proses mobilisasi armada pemadam.
Meski terkendala jarak, penanganan di lapangan melibatkan personel dan sarana prasarana pemadaman dari unsur perusahaan PT AWL, serta relawan dari tingkat kecamatan dan desa. Agus menegaskan bahwa pemantauan lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan tidak ada bara yang kembali menyala dan menjalar ke kawasan sekitar.