PALANGKA RAYA — Hamparan lahan seluas sekitar 0,13 hektare yang ditumbuhi semak belukar, pakis, pohon akasia, dan pohon tumih di atas tanah gambut berpasir hangus terbakar. Tim pemadam yang dikerahkan berhasil mengendalikan api dalam waktu kurang dari dua jam, dan proses pemadaman resmi diakhiri pada pukul 13.11 WIB.
Kebakaran ini menjadi peringatan akan kerentanan lahan gambut di wilayah pinggiran Palangka Raya yang mudah terbakar di musim kemarau. Struktur tanah gambut berpasir disebut rawan memicu penjalaran api secara cepat ke area yang lebih luas.
Untuk menaklukkan api yang membakar lahan di dekat permukiman warga tersebut, tim menerjunkan satu unit Mobil Tangki Water Supply berkapasitas 5.000 liter. Selain itu, petugas juga membawa unit Slip On & Rescue Thanoz, selang tembak, nozzle spray, hingga Y-Connector untuk membagi aliran air.
Strategi penanganan difokuskan pada tiga hal: pemadaman langsung di titik api, pelokalisasian agar api tidak merambat, dan pendinginan intensif. Tahap terakhir ini krusial untuk memastikan bara di dalam lapisan tanah benar-benar padam total, mengingat api gambut bisa bertahan lama di bawah permukaan.
Gubernur Kalteng Agustiar Sabran melalui Kepala Dishut Provinsi Kalteng, Agustan Saining, menginstruksikan jajarannya untuk mempertahankan kesiapsiagaan tinggi dalam menangani setiap laporan titik api. Respons cepat di Kereng Bangkirai ini menjadi contoh nyata dari instruksi tersebut.
Agustan menegaskan bahwa kecepatan respons petugas dan kepedulian masyarakat menjadi kunci utama pencegahan karhutla di wilayah Kalteng. Ia mengimbau warga untuk segera melapor apabila melihat adanya titik api atau asap di sekitar lingkungannya.
“Masyarakat juga diimbau untuk tetap waspada dan segera melaporkan apabila melihat adanya titik api atau asap di sekitar lingkungannya. Kolaborasi antara masyarakat dan petugas menjadi salah satu kunci dalam mempercepat penanganan karhutla di Kalteng,” tandasnya.
Peran warga dalam melaporkan kejadian sejak dini terbukti mempercepat proses pemadaman. Dalam kasus ini, laporan yang masuk sekitar pukul 11.52 WIB langsung direspons, sehingga api dapat dilokalisasi sebelum meluas ke area permukiman atau lahan yang lebih besar.
Dishut Kalteng mengingatkan bahwa musim kemarau meningkatkan risiko kebakaran lahan secara signifikan. Masyarakat yang tinggal di sekitar area gambut diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar dan selalu waspada terhadap potensi munculnya api dari sumber mana pun.