KUALA KURUN — Sebanyak 242 titik panas (hotspot) terdeteksi di Kabupaten Gunung Mas selama tujuh bulan terakhir, dengan estimasi lahan terbakar mencapai 121 hektare. Angka ini menjadi alarm bagi Pemkab Gunung Mas untuk memperkuat langkah pencegahan sebelum musim kemarau mencapai puncaknya.
Bupati Jaya S. Monong menegaskan apel gelar pasukan yang digelar Rabu (22/7/2026) bukan sekadar seremonial. "Kegiatan ini bertujuan memastikan kesiapsiagaan Kabupaten Gunung Mas dalam menanggulangi bencana karhutla, sehingga setiap instansi dan stakeholder dapat mempersiapkan seluruh sarana, prasarana, serta sumber daya yang dimiliki," ujarnya.
Dalam apel tersebut, Bupati mengerahkan personel dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Dinas Pemadam Kebakaran, Tagana, hingga relawan Masyarakat Peduli Api. Ia meminta seluruh elemen memperkuat koordinasi agar target Gunung Mas bebas kabut asap pada 2026 bisa terwujud.
"Kita harus bahu-membahu mewujudkan Kabupaten Gunung Mas bebas asap pada tahun 2026 dengan mengutamakan langkah-langkah pencegahan," tegas Jaya.
Berdasarkan prakiraan BMKG, puncak musim kemarau di wilayah Gunung Mas diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. Kondisi ini dinilai meningkatkan risiko karhutla jika antisipasi tidak dilakukan sejak dini.
Bupati menekankan pentingnya deteksi dini dan respons cepat. "Prioritas utama kita adalah melakukan pencegahan sedini mungkin. Namun apabila kebakaran terjadi, penanganan harus dilakukan saat api masih kecil dan belum meluas," katanya.
Selain kesiapan personel dan peralatan, Jaya menginstruksikan peningkatan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya membuka lahan dengan cara membakar. Patroli rutin, pemetaan wilayah rawan, pemasangan spanduk larangan membakar, hingga pendirian pos komando di kawasan berisiko tinggi juga diminta terus diperkuat.
"Melalui sinergi seluruh pihak, kami berharap kejadian karhutla di Kabupaten Gunung Mas dapat ditekan sehingga kerusakan lingkungan dan dampak kabut asap dapat dicegah, serta kelestarian hutan tetap terjaga untuk masa depan," pungkas Jaya.