KALIMANTAN TENGAH — Kacamata pintar Samsung yang diumumkan di ajang Unpacked ini mengandalkan platform Qualcomm Snapdragon AR1 Gen 1 yang sudah termasuk Hexagon NPU untuk pemrosesan AI di perangkat. Qualcomm mengklaim platform ini dirancang khusus untuk kacamata yang ringan dan hemat daya.
Samsung mengonfirmasi perangkat ini mampu bertahan sembilan jam dalam sekali pengisian daya. Sebagai tambahan, tersedia casing pengisi daya yang menyimpan energi untuk tujuh kali pengisian penuh. Kombinasi ini memungkinkan pengguna memakai kacamata seharian penuh tanpa khawatir kehabisan baterai.
Dua fitur utama yang disorot Samsung adalah pencarian visual dan penerjemahan real-time. Keduanya dijalankan secara on-device berkat NPU bawaan chipset, sehingga tidak bergantung penuh pada koneksi internet. Samsung menyebut kombinasi ini sebagai "pengalaman asisten pribadi paling optimal."
Untuk konektivitas, kacamata ini mendukung Wi-Fi 7 dan Bluetooth 5.3 untuk streaming dari ponsel atau perangkat lain. Tidak ada layar (display) di perangkat ini, sehingga semua informasi kemungkinan disampaikan lewat audio atau notifikasi ke ponsel terhubung.
Kamera terintegrasi menjadi salah satu daya tarik utama, sekaligus sumber kekhawatiran privasi. Samsung memasang lampu LED yang menyala saat kamera aktif merekam. Jika LED tertutup atau terhalang, sistem akan menonaktifkan kamera secara otomatis.
Langkah ini mirip dengan pendekatan Meta pada kacamata pintar Ray-Ban Stories. Meta sempat menghadapi masalah karena layanan "hacking" yang mematikan LED perekaman. Meta kemudian merespons dengan menonaktifkan kamera jika LED dirusak. Samsung kemungkinan akan menghadapi tantangan serupa dari pihak yang ingin mematikan indikator rekaman.
Samsung bekerja sama dengan Warby Parker dan Gentle Monster untuk desain bingkai kacamata. Kedua merek ini dikenal di industri fashion dan optik global. Hasil kolaborasi disebut Samsung memiliki desain yang menarik.
Hingga saat ini, Samsung belum mengumumkan harga atau jadwal rilis. Informasi lebih lanjut akan diberikan pada musim gugur tahun ini. Belum ada kepastian apakah produk ini akan masuk ke pasar Indonesia.
Kacamata pintar Samsung ini paling cocok untuk pengguna yang sudah akrab dengan ekosistem Galaxy dan menginginkan wearable berbasis AI tanpa harus menatap layar. Dengan daya tahan baterai yang panjang dan fitur AI on-device, perangkat ini bisa menjadi alternatif bagi mereka yang mencari asisten digital berbentuk kacamata.