Wali Kota San Francisco Desak Regulasi Lebih Ketat untuk Robotaxi Waymo Usai Macet Parah 4 Juli

Penulis: Irfan Hakim  •  Jumat, 17 Juli 2026 | 08:20:32 WIB
Armada robotaxi Waymo terhenti total di tengah kemacetan lalu lintas di San Francisco pada perayaan Hari Kemerdekaan AS, 4 Juli 2025.

KALIMANTAN TENGAH — Bencana lalu lintas pada perayaan Hari Kemerdekaan AS 4 Juli lalu menjadi titik balik hubungan San Francisco dengan teknologi otonom. Sebanyak 100.000 penonton kembang api di Jembatan Golden Gate harus terjebak macet berjam-jam setelah puluhan robotaxi Waymo kehabisan baterai dan berhenti total di tengah jalan. Armada tersebut tidak mampu bermanuver keluar dari kepadatan, justru memperparah kemacetan yang sudah ada.

Dalam surat resmi ke California Department of Transportation (Caltrans) yang dilihat TechCrunch, Wali Kota Daniel Lurie menyebut dua insiden kritis: pemadaman listrik besar-besaran Desember lalu dan kekacauan 4 Juli. Keduanya, menurut Lurie, membuktikan celah fatal dalam regulasi kendaraan otonom di California saat ini.

"California tidak lagi hanya perlu menguji apakah robotaxi aman dalam kondisi normal. Kami harus memastikan mereka bisa diandalkan saat kondisi luar biasa," tulis Lurie dalam suratnya, seperti dikutip San Francisco Chronicle.

Empat Syarat Operasional Baru untuk Waymo dan Rivalnya

Lurie mengusulkan empat "kemampuan operasional inti" yang wajib dimiliki setiap perusahaan robotaxi. Pertama, kemampuan memindahkan kendaraan dari jalur aktif lalu lintas secara instan. Kedua, adaptasi rute, area layanan, dan titik jemput secara real-time saat terjadi gangguan.

Ketiga, kewajiban berbagi data operasional langsung dengan otoritas setempat — termasuk lokasi robotaxi yang mogok, rencana evakuasi, dan gangguan layanan. Keempat, perusahaan harus lulus uji simulasi penanganan lonjakan penumpang dan volume lalu lintas ekstrem.

Lurie menegaskan langkah ini tidak akan menghambat industri kendaraan otonom. "Empat syarat ini tidak akan melemahkan mereka. Justru akan memperkuat mereka," ujarnya.

Waymo Terbesar, Tapi Paling Bermasalah

Waymo saat ini mengoperasikan sekitar 1.000 robotaxi di Bay Area dan menjalankan 500.000 perjalanan berbayar per pekan di 11 kota. Skala inilah yang membuat Waymo menjadi sorotan utama regulator. Pada 4 Juli, Waymo sebenarnya sudah membatasi layanan di area waterfront dan menempatkan perwakilan di pusat darurat kota. Namun, robotaxi-robotaxi itu tetap terjebak di luar distrik yang dibatasi.

Lurie menilai tindakan sukarela seperti itu tidak lagi cukup. Armada Waymo sudah terlalu besar untuk hanya mengandalkan kesepakatan informal dengan pemerintah kota.

Regulasi California vs Negara Bagian Lain

California sebenarnya sudah memiliki kerangka regulasi kendaraan otonom paling ketat di AS, lebih keras dari Texas atau Arizona. Setiap perusahaan harus melalui dua tahap izin: dari Departemen Kendaraan Bermotor (DMV) dan Komisi Utilitas Publik (CPUC). Enam perusahaan — termasuk Waymo, Nuro, dan Zoox — sudah memegang izin uji coba tanpa pengemudi di kursi kemudi.

Amazon melalui Zoox dan Uber juga bersiap meluncurkan layanan komersial di kawasan ini. Sementara Tesla, meski memiliki layanan robotaxi bermerek, belum memiliki izin kendaraan tanpa pengemudi dan hanya mengoperasikan layanan antar-jemput dengan sopir manusia.

Apa Dampaknya ke Pengguna?

Bagi warga San Francisco, insiden 4 Juli jadi pengingat bahwa teknologi otonom belum siap menghadapi situasi darurat massal. Ribuan orang yang terjebak macet berjam-jam bukan hanya terlambat pulang, tapi juga kehilangan akses ke transportasi umum karena bus kota ikut terhambat robotaxi yang mogok.

TechCrunch telah menghubungi Waymo untuk meminta tanggapan. Artikel ini akan diperbarui begitu perusahaan memberikan respons.

Reporter: Irfan Hakim
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top