PALANGKA RAYA — Prof. Bhayu yang juga menjabat Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UPR, mengajak semua pihak menghindari polemik yang berpotensi memecah belah. Menurutnya, proses demokrasi akademik ini harus menjadi ruang penyampaian visi dan misi untuk kemajuan kampus.
Di tengah dinamika yang berkembang, Prof. Bhayu mengaku memilih untuk tidak menghabiskan energi menanggapi berbagai isu. Ia memilih fokus memikirkan pengembangan UPR agar dapat memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat Kalimantan Tengah.
“Daripada menghabiskan energi untuk menanggapi berbagai isu, saya memilih fokus memikirkan bagaimana UPR dapat berkembang dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” ujarnya.
Prof. Bhayu menilai UPR saat ini menghadapi sejumlah tantangan yang membutuhkan perhatian kolektif. Ia menyebutkan setidaknya tiga prioritas utama yang harus menjadi fokus bersama.
Ia berharap seluruh sivitas akademika dapat menjaga iklim akademik yang sehat. Proses pemilihan rektor harus berjalan dengan menjunjung tinggi etika, profesionalisme, dan saling menghormati.
“Saya tidak ingin proses ini meninggalkan perpecahan. Setelah seluruh tahapan selesai, kita tetap menjadi satu keluarga besar UPR yang memiliki tanggung jawab membangun universitas ini bersama-sama,” katanya.
Menurut Prof. Bhayu, setiap calon memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan gagasan terbaik. Kualitas pemikiran, rekam jejak, dan pengabdian kepada institusi akan menjadi penilaian utama dalam proses tersebut.
Ia juga mengajak seluruh pihak menyikapi setiap dinamika secara bijaksana. Hal ini penting agar semangat membangun kampus yang unggul dan berdaya saing tidak terganggu.
“Siapa pun yang nantinya dipercaya memimpin UPR, saya berharap seluruh civitas akademika dapat bersatu kembali untuk bersama-sama memajukan universitas dan memberikan kontribusi terbaik bagi Kalimantan Tengah maupun Indonesia,” tutupnya.