BANJARBARU — Setiap pekan, puluhan warga datang ke Bank Sampah Jolali membawa kantong berisi sampah yang sudah dipilah dari rumah. Di sudut Kota Banjarbaru ini, kardus, botol plastik, dan kertas bekas ditimbang, dicatat, lalu ditabung. Hasilnya bisa diambil kapan saja untuk kebutuhan keluarga.
Margiono, pengelola bank sampah, mengatakan perubahan ini tidak terjadi dalam semalam. Awalnya, mengajak warga memilah sampah dari rumah terasa berat. Namun pendampingan rutin melalui Program Desa Berdaya Jolali perlahan membentuk kebiasaan baru.
"Para ibu rumah tangga menjadi motor penggerak. Mereka sadar bahwa sampah tidak lagi sekadar dibuang, melainkan memiliki nilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga," ujar Margiono dalam keterangan yang diterima di Palangka Raya, Selasa.
Salah satu warga, Ibu Elma, kini menjadi nasabah tetap Bank Sampah Jolali. Baginya, memilah sampah sudah menjadi rutinitas yang membawa dampak langsung. "Dulu sampah langsung kami buang. Sekarang kami kumpulkan dan dipilah. Hasilnya memang tidak selalu besar, tetapi cukup membantu kebutuhan sehari-hari," tuturnya.
Ia menambahkan, lingkungan sekitar menjadi lebih rapi dan anak-anak ikut belajar bahwa sampah bisa bernilai jika dikelola dengan benar. Perubahan ini, kata Elma, membuatnya merasa lebih peduli terhadap lingkungan sekaligus mendapatkan manfaat ekonomi.
General Manager PT PLN (Persero) UID Kalselteng, Iwan Soelistijono, menegaskan bahwa program ini adalah wujud komitmen perusahaan dalam memberdayakan masyarakat. "Kami percaya energi tidak hanya diwujudkan melalui penyediaan listrik yang andal, tetapi juga melalui upaya memberdayakan masyarakat agar mampu menciptakan perubahan yang berkelanjutan," kata Iwan.
Menurutnya, Bank Sampah Jolali menjadi contoh nyata bagaimana kepedulian terhadap lingkungan mampu menciptakan manfaat ekonomi sekaligus memperkuat kebersamaan warga. Keberhasilan program ini bahkan membawa PLN meraih Gold Indonesian SDGs Awards (ISDA) 2025, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
"Penghargaan ini menjadi penyemangat bagi PLN untuk terus menghadirkan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat," ujar Iwan.
Margiono menambahkan, perjalanan Bank Sampah Jolali berawal dari keinginan sederhana: mengubah kebiasaan masyarakat agar lebih peduli lingkungan. "Awalnya tidak mudah. Namun seiring waktu mereka mulai merasakan manfaatnya. Lingkungan menjadi lebih rapi, volume sampah berkurang, dan hasil penjualan sampah bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga maupun kegiatan bersama," jelasnya.
Melalui program ini, setiap sampah yang dipilah bukan sekadar mengurangi limbah. Ia menjadi simbol perubahan: dari kebiasaan kecil di rumah, PLN bersama warga membangun gerakan yang menghadirkan lingkungan lebih bersih, masyarakat yang lebih berdaya, dan masa depan yang semakin hijau.