KALIMANTAN TENGAH — Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) merilis data distribusi motor baru dari pabrik ke dealer untuk periode Januari–Juni 2026. Total wholesales enam bulan pertama mencapai 3.129.587 unit, naik tipis dari 3.104.629 unit pada semester I-2025. Artinya, pertumbuhan hanya 0,8 persen—jauh dari ekspektasi awal tahun yang optimistis.
Kinerja bulanan sempat menunjukkan sinyal tidak konsisten. Setelah mencatat angka tinggi di awal tahun, penjualan Maret dan Mei justru merosot ke bawah 500.000 unit. Juni menjadi titik balik dengan torehan 515.136 unit, naik 7,5 persen dari 479.388 unit pada Mei.
Lima pabrikan anggota AISI—Honda, Yamaha, Suzuki, Kawasaki, dan TVS—menjadi motor penggerak distribusi nasional. Data wholesales per bulan menunjukkan pola fluktuatif: Januari (577.763 unit), Februari (587.354 unit), Maret (448.974 unit), April (520.972 unit), Mei (479.388 unit), dan Juni (515.136 unit).
Puncak penjualan terjadi di Februari, sementara Maret menjadi titik terendah. Lonjakan signifikan terjadi pada April yang naik 16 persen dibanding Maret, sebelum kembali turun di Mei.
Astra Honda Motor (AHM) sebagai pemimpin pasar hanya bersedia membeberkan data retail—penjualan dari dealer ke konsumen akhir. Direktur Pemasaran AHM Octavianus Dwi Putro menyebut angka penjualan Honda pada Juni sekitar 400.000 unit, namun enggan merinci angka pasti. "Satu semester lumayan lah, double digit," ucapnya saat ditanya soal pertumbuhan penjualan Honda selama Januari–Juni 2026.
Octavianus juga menegaskan hanya berbicara soal retail Honda dan tidak mau mengomentari merek lain. Sikap ini lumrah mengingat AHM adalah produsen dengan pangsa pasar terbesar di Indonesia.
Pertumbuhan semester I yang hanya 0,8 persen menunjukkan daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya. Faktor eksternal seperti gejolak ekonomi global dan tekanan domestik ikut mempengaruhi keputusan konsumen untuk membeli kendaraan baru. Meski Juni berhasil kembali ke level 500 ribuan, tren kenaikan masih perlu diuji konsistensinya di semester kedua.
Para pengamat otomotif menilai pemulihan pasar motor sangat bergantung pada stabilitas harga komoditas dan suku bunga kredit. Jika kondisi ekonomi membaik, potensi pertumbuhan di semester II masih terbuka lebar.