KALIMANTAN TENGAH — Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak mengumumkan keputusan tersebut dalam pertemuan yang disiarkan televisi bersama Presiden Vladimir Putin. "Keputusan ini diambil untuk meningkatkan pasokan ke pasar domestik," ujar Novak, seperti dikutip dari CNN Internasional.
Langkah ini diambil di tengah meningkatnya gangguan pasokan di dalam negeri akibat serangan drone Ukraina yang menargetkan sejumlah kilang minyak Rusia. Analis senior produk minyak Energy Aspects, Natalia Losada, menjelaskan bahwa aturan baru ini melarang seluruh produsen mengekspor solar, sehingga secara efektif menghentikan total pengiriman bahan bakar dari Rusia ke luar negeri.
Kebijakan ini kontras dengan pernyataan Novak beberapa hari sebelumnya yang menyebut pasokan bensin dan solar di pasar domestik Rusia dalam kondisi mencukupi. Faktanya, laporan dari berbagai wilayah menunjukkan krisis distribusi yang parah.
Analisis CNN menyebutkan hampir seluruh dari 83 wilayah Rusia mengalami kekurangan bensin atau gangguan distribusi bahan bakar. Media lokal melaporkan warga harus mengantre hingga 18 jam di stasiun pengisian bahan bakar (SPBU), dan sejumlah SPBU bahkan memberlakukan pembatasan pembelian akibat kelangkaan pasokan.
Larangan ekspor solar Rusia menambah daftar panjang risiko pasokan energi dunia. Rusia merupakan salah satu eksportir solar terbesar, dan penghentian pasokan secara tiba-tiba berpotensi mendorong harga bahan bakar di pasar internasional.
Kekhawatiran ini berlapis dengan ketegangan yang masih membayangi Selat Hormuz, jalur transit minyak paling strategis di dunia. Dua faktor ini menciptakan tekanan ganda pada harga energi global yang selama beberapa pekan terakhir sudah menunjukkan tren volatilitas tinggi.
Bagi Indonesia, yang masih menjadi importir solar, kebijakan ini berpotensi menekan biaya impor bahan bakar dan memperburuk defisit neraca perdagangan migas. Pelaku industri dan pengamat energi kini mencermati langkah negara-negara produsen lain untuk mengisi kekosongan pasokan yang ditinggalkan Rusia.
Kebijakan ini menimbulkan tanda tanya besar mengenai efektivitas pengelolaan pasokan energi Rusia. Alih-alih menyelesaikan masalah distribusi dalam negeri, larangan ekspor justru dianggap sebagai langkah darurat yang menunjukkan kegagalan pemerintah dalam mengamankan pasokan bensin dan solar untuk warganya.
Serangan drone Ukraina terhadap infrastruktur kilang minyak Rusia dalam beberapa pekan terakhir memang telah memangkas kapasitas produksi dalam negeri secara signifikan. Namun, keputusan untuk menutup keran ekspor secara total dinilai sebagai sinyal bahwa situasi pasokan di Rusia lebih buruk dari yang diakui secara resmi.